Pesantren dan Pertumbuhan Ekonomi

pondok-pesantrenPesantren sebagai lembaga pendidikan tertua tentu memiliki andil  yang cukup besar dalam sejarah perjalanan Bangsa ini, tidak hanya dalam ranah pendidikan tetapi juga dalam pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pesantren yang memiliki konsen serius dalam memajukan perekonomian di internal mereka sendiri semisal  Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dimana koperasinya kini omzetnya mencapai 1,8 triliun. Kopotren Sidogiri kini telah merambah di propinsi Jawa Timur, Jawa Barat dan Jakarta.

Dalam usaha memajukan perekonomian bangsa ini, tentu tidak cukup hanya dengan menunggu kinerja pemerintah semata, akan tetapi lebih dari itu harus ada upaya aktif  dari lembaga-lembaga non pemerintah seperti lambaga pesantren. Hal ini yang harus di lirik oleh pemerintah baru sekarang ini. Karena pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mencetak kader-kadernya sebagai penerus pemimpin bangsa. Tidak bisa dipungkiri banyak tokoh-tokoh bangsa yang lahir dari rahim pesantren.

Pada dasarnya pesantren di era setelah reformasi ini sudah mulai berkembang baik sumber daya manusianya maupun dalam perekonomiannya. Kita lihat sekarang ini banyak pesantren yang sudah mempunyai usaha-usaha sendiri dalam mengembangkan pembagunan dan kreatifitas para santrinya. Disisi lain pesantren juga sebagai ajang untuk melatih diri untuk mandiri dan mengembangkan keratifitas. Oleh karena itu pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan dan kemajuan dunia pesantren. Masalahnya yang kita lihat sekarang ini pesantren kerap kali termarginalkan dan mendapatkan stigma negatif sebagai sarang teroris.

Lukman Hakim Saefuddin manteri agama ketika mengisi seminar tentang pesantren dengan tema “Pemberdayaan Lembaga Pesantren dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Ekonomi’’ di kantor BI Surabaya, Jawa Timur, Rabu(5/11/2014) mengungkapkan bahwa potensi pertumbuhan ekonomi dari Pondok pesantren memang cukup tinggi. Menurut data 2012 saja, jumlah Pondok Pesantren mencapai 27.230. kenaikan ini dinilai cukup pesat mengingat pada tahun 1977 jumlah Pondok Pesantren hanya 4.195. sementara jumlah santrinya hanya 3.759.198. oleh karena itu dengan potensi pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut  membutuhkan kesetaraan regulasi, program, dan anggaran bagi pesantren dan pemerintah.

Pesantren kini harus menampakkan wajah yang lebih, dari sekedar pusat pendidikan agama, bermetamorfosis manjadi tempat pembedayaan ekonomi umat. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang aneh untuk dilakukan, akan tetapi sudah merupakan keharusan dan mendesak untuk dilakukan, lebih-lebih sebentar lagi kita akan memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA)  dimana mau tidak mau dunia pesantren akan menjadi bagian dari kontestasi persaingan wilayah global. Tanpa melakukan sesuatu yang adaptif dari internal kalangan pesantren sendiri, serta tanpa dukungan dari kalangan eksternal dalam hal ini pemerintah, tentu sulit untuk menjadikan pesantren sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bangsa, oleh karena itu harus ada semangat saling membantu antar pihak pesantren dan pemerintah sehingga kedepan wajah buram perekonomian bangsa ini bisa kita atasi bersama-sama.

Ditulis oleh : M.Ridoi

Peneliti U’L CEE Institute