I’rab Isim yang Enam

1781888_749927031685795_1510247048_nSetelah kemaren kita mengkaji tentang jenis-jenis perubahan (i’rab) yang terjadi pada kalimat Isim dan Fiil, maka sekarang kita akan masuk kepada bahasan rincian beberapa Isim Mu’rab yang kali ini akan difokuskan pada Isim yang Enam. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ # وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

Rafakkanlah dengan waw, dan nasabkanlah dengan alif, serta jarkanlah dengan ya yaitu isim-isim yang akan disebutkan.

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا # وَالْفَمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

Di antaranya adalah lafadz ذُوْ (yang mempunyai) bila mengandung makna makna memiliki dan lafadz فَمٌ (mulut) bila huruf mimnya dipisahkan (ditiadakan).

أَبٌ آخٌ حَمٌ كَذَاكَ وَهَنُ # وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

Lafadz أَبٌ (ayah),  أَخٌ(saudara laki-laki), dan  حَمٌ(ayah mertua/ipar) dan demikian pula lafadz هَنُ, untuk lafadz yang terakhir dibaca naqish (dii’rab dengan harkat) lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَالِيَيْهِ يَنْدُرُ # وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

Dan pada lafadz أَبٍ dan dua lafadz yang setelahnya jarang naqishnya, tetapi bacaan qasharnya lebih masyhur ketimbang bacaan naqishnya.

وَشَرْطُ ذَا الإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ # لِلْيَا كَجَا أَخْو أَبِيْكَ ذَا اعْتِلاَ

Syarat bagi i’rab ini hendaknya (Isim yang Enam) tersebut diidhofahkan bukan kepada ya mutakallim seperti pada kalimat جَاءَ أَخُوْ أَبِيْكَ ذَا عْتِلَا (telah datang saudara ayahmu yang mempunyai kedudukan tinggi).

Isim yang enam adalah setiap isim yang diakhiri oleh huruf ilat dan tergabung ke dalam enam kelompok berikut : أَبُوَكَ، أَخُوْكَ، حَمُوْكَ، فُوْكَ، ذُوْ مَالٍ dan هَنُوْكَ. Masing-masingnya menurut pendapat yang masyhur dirafakkan dengan waw sebagai ganti dari dommah seperti pada contoh جَاءَ أَبُوْكَ, dinasabkan dengan alif sebagai ganti dari fatah seperti pada contoh رَأَيْتُ أَبَاكَ, dan dijarkan dengan ya sebagai ganti dari kasrah seperti pada مَرَرْتُ بِأَبِيْكَ.

Masing dari keenam isim tersebut mempunyai syarat khusus dan syarat umum untuk mengi’rabnya sebagai isim yang enam, sehingga ia bisa dirafakkan dengan waw, dinasabkan dengan alif, dan dijarkan dengan ya. Di antara syarat khusus itu adalah sebagai berikut :

Pertama, syarat untuk lafadz ذُوْ adalah dia harus bermakna “memiliki”, berbeda dengan lafadz      ذُوْ orang-orang Thaiyyah yang bermakna “yang” yang mabni, dalam artian selalu diakhiri dengan huruf waw dalam segala kondisi, baik rafak, nasab, maupun khafad seperti pada contoh جَاءَنِيْ ذُوْ قَامَ – رَأَيْتُ ذُوْ قَامَ – مَرَرْتُ بِذُوْ قَامَ. Kemudian dalam prakteknya kalimat ذُوْ juga harus diidhofahkan kepada isim jenis yang zohir selain sifat seperti ذُوْ مَالٍ – ذُوْ الْجَلَالِ – ذُوْ الْجَمَالِ, ia tidak bisa idhofah kepada isim dhomir seperti ذُوْهُ – ذُوْهَا dan lain-lain.

Kedua, syarat untuk lafadz فَمٌ adalah menghilangkan huruf mimnya. Jika huruf mimnya tetap ada pada kalimat tersebut, maka lafadz tersebut dii’rab dengan harkat seperti pada contoh هَذَا فَمٌ – رَأَيْتُ فَمًا – نَظَرْتُ إِلَى فَمٍ.

Ketiga, untuk lafadz هَنُ tidak mempunyai syarat dalam penisbatannya sebagai Isim yang Enam. Hanya saja dalam penerapan sehari-hari, ia lebih sering dii’rab dengan harkat ketimbang huruf sebagai isim yang enam. Bacaan dengan i’rab harkat disebut juga dengan naqsh seperti pada contoh هَذَا هَنُ زَيْدٍ – رَأَيْتُ هَنَ زَيْدٍ – مَرَرْتُ بِهَنِ زَيْدٍ. Sedangkan bacaan dengan i’rab huruf disebut dengan itmam seperti pada contoh هَذَا هَنُوْهُ – رَأَيْتُ هَنَاهُ – مَرَرْتُ بِهَنِيْهِ.

Keempat, untuk lafadz أَبٌ، أَخٌ dan حَمٌ juga tidak mempunyai syarat dalam menisbatkannya sebagai Isim yang Enam. Hanya saja dalam pemakaian dalam bahasa Arab, terkadang ketiganya dibaca secara naqsh atau dengan menghilangkan huruf waw, alif, dan ya-nya ketika rafak, nasab, dan khafad. Sehingga ketiganya dii’rab dengan huruf seperti pada contoh هَذَا أَبُهُ – رَأَيْتُ أَبَهُ – مَرَرْتُ بِأَبِهِ. Kemudian sebagian ahli bahasa yang lain membacanya dengan menambahkan alif di akhirnya, baik ketika rafak, nasab, maupun jar seperti pada contoh هَذَا أَبَاهُ – رَأَيْتُ أَبَاهُ – مَرَرْتُ بِأَبَاهُ. Allahu A’lam

Ditulis oleh Yunal Isra

Peneliti dan Tutor U’L CEE Institute