I’rab Isim Mutsanna/Tasniah

Bersama Pak KyaiSetelah kemaren kita mengkaji tentang i’rab Isim yang Enam, maka sekarang kita akan masuk kepada bahasan i’rab Isim Mutsanna/Tasniah. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ  #إذَا بِمُضْمَرٍ مُضَافَاً وُصِلاَ

Dengan alif rafakkanlah isim mutsanna dan lafadz كِلَا (keduanya), yaitu apabila ia diidhodahkan kepada isim dhomir yang disambungkan kepadanya.

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ # كَابْنَيْنِ وَابْنَتَيْنِ يَجْرِيَانِ

Demikian pula lafadz كِلْتَا (keduanya), اِثْنَانِ (dua), dan اِثْنَتَانِ (dua), sama juga dengan اِبْنَيْنِ (dua anak laki-laki) dan اِبْنَتَيْنِ (dua anak perempuan) ketentuan i’rabnya.

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ # جَرًّا وَنَصْبَاً بَعْدَ فَتْحٍ قَدْ أُلِفْ

Dalam kesemuanya itu, ya menggantikan kedudukan alif, baik dalam keadaan jar maupun nasab, yaitu sesudah harkat fatah sebagaimana biasanya.

Sebuah kata dikatakan Isim Tasniah/Mutsanna ketika dia memenuhi ketentuan sebagai berikut :

Pertama, kata tersebut mengandung makna dua dengan tambahan alif dan nun di akhirnya ketika rafak serta ya dan nun ketika nasab dan jar. seperti pada contoh جَاءَ بَكْرَانِ – رَأَيْتُ بَكْرَيْنِ – مَرَرْتُ بِبَكْرَيْنِ (telah datang dua orang Bakar).

Kedua, kata tersebut bisa dilepaskan dari tambahan itu seperti kata بَكْرَانِ yang dapat dilepaskan dari tambahan alif dan nunnya menjadi بَكْرٌ saja sebagai isim mufrad (kata yang bermakna tunggal).

Ketiga, makna “dua” pada isim tersebut muncul dari peng-ataf-an dua kata yang serupa seperti بَكْرَانِ yang merupakan kumpulan dari بَكْرٌ وَبَكْرٌ (Bakar dan Bakar yang lain).

Dengan demikian, tidak dikatakan isim mutsanna kata-kata berikut شَفْعٌ (sepasang) karena ia tidak bisa menerima tambahan alif dan nun atau ya dan nun di akhirnya. Begitu juga kata  اِثْنَانِ (dua) karena ia tidak bisa dilepas dari tambahannya. Serta lafadz اْلقَمَرَيْنِ (matahari dan bulan) karena yang diathafkan kepadanya bukan lafadz yang serupa dengannya, akan tetapi bandingannya yaitu قَمَرٌ وَشَمْسٌ (bukan قَمَرٌ وَقَمَرٌ) dan lain-lain sekalipun isim-isim tersebut mengandung makna “dua”. Namun )isim-isim tersebut( disebut juga dengan Mulhaq Mutsanna (Isim yang menyerupai mutsanna).

Pada tiga bait di atas, Ibn Malik menegaskan bahwa mutsanna ataupun mulhaq Mutsanna, masing-masingnya dii’rab dengan alif ketika rafak dan dengan ya ketika nasab dan jar sebagaimana yang sudah kita jelaskan di atas.

Hanya saja ada beberapa catatan yang harus digarisbawahi di sini, yaitu :

Pertama, lafadz كِلَا dan كِلْتَا baru disamakan i’rabnya dengan isim tasniah ketika keduanya diidhofahkan kepada isim dhomir seperti pada contoh جَاءَنِيْ كِلَاهُمَا – رَأَيْتُ كِلَيْهِمَا – مَرَرْتُ بِكِلِيْهِمَا. Namun jika keduanya diidhofahkan kepada isim zahir (selain isim dhomir), maka keduanya dii’rab dengan alif dalam setiap kondisi, baik ketika rafak, nasab maupun jar seperti pada contoh جَاءَنِيْ كِلَا الرَّجُلَيْنِ – رَأَيْتُ كِلَا الرَّجُلَيْنِ – مَرَرْتُ بِكِلَا الرَّجُلَيْنِ.

Kedua, lafadz اِثْنَانِ (dua) dan اِثْنَتَانِ (dua) yang tergolong mulhaq mutsanna, i’rabnya disamakan dengan lafadz اِبْنَيْنِ (dua anak laki-laki) dan اِبْنَتَيْنِ (dua anak perempuan) yang tergolong sebagai isim tasniah yang hakiki.

Ketiga, cara baca isim tasniah adalah dengan menfatahkan huruf sebelum ya ketika nasab dan jar dan mengkasrahkan huruf nun-nya seperti pada lafadz مُسْلِمَيْنِ (dua orang muslim), berbeda dengan cara baca jamak muzakkar salim ketika nasab dan jar seperti مُسْلِمِيْنَ (beberapa orang muslim) yang huruf sebelum ya-nya dibaca kasrah dan huruf nun-nya dibaca fatah.

Keempat, sebagian orang arab ada yang mengi’rab mutsanna dengan harkat yang disembunyikan pada alif ketika rafak dan pada ya ketika nasab dan jar. Dan sebagian yang lain mengi’rabnya dengan alif dalam setiap kondisi, baik ketika rafak, nasab, maupun jar seperti pada contoh جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلَاهِمَا – رَأَيْتُ الزَّيْدَانِ كِلَاهِمَا – مَرَرْتُ بِالزَّيْدَانِ كِلَاهِمَا, meskipun pendapat ini kurang mendapat apresiasi dari mayoritas ahli bahasa. Allahu A’lam

Ditulis oleh Yunal Isra

Peneliti dan Tutor U’L CEE Institute