Harf dan Pembagiannya

1475813_672273196158264_587441837_nSetelah kemaren kita mengkaji tentang pembagian fiil kepada mu’rab dan mabni, maka sekarang kita akan masuk kepada bahasan harf dan klasifikasinya. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

وَكُلُّ حَرْفٍ مُسْتَحِقٌّ لِلْبِنَا # وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا.

Semua huruf berhak untuk dimabnikan, bentuk asal mabni itu adalah berharkat sukun.

وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ # كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّاكِنُ كَمْ.

Di antara mabni itu ada yang berharkat fatah, ada yang kasrah, dan ada juga yang dommah, seperti lafadz aina (di mana), amsi (kemaren), haitsu (sekira-kira), dan kam (berapa) mabni sukun.

Pada bait tersebut, Ibn Malik menjelaskan bahwa semua harf (yaitu kalimat yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa diiringi oleh kalimat lain) adalah mabni, dalam artian tidak berubah dalam kondisi apapun.

Dalam penunjukannya terhadap makna tertentu, kalimat harf tidak membutuhkan perubahan sebagaimana halnya isim dan fi’il, sehingga makna huruf itu muncul dari keberadaan dirinya sendiri.

Sebagai contoh misalnya kalimat أَخَذْتُ مِنَ الدَّرَاهِمِ (saya mengambil sebagian dirham). Pada kalimat tersebut makna “sebagian” muncul dari kata مِنْ (salah satu dari huruf jar yang mengandung makna tab’id/sebagian).

Hal ini berbeda dengan kalimat isim dan fiil yang harus berubah bentuk dulu sebelum menghasilkan makna yang dimaksud. Misalnya saja, kata بَكْرٌ kalau kita ingin memaksudkannya sebagai kata benda tunggal (isim mufrad), بَكْرَانِ kalau ingin menjadikannya sebagai kata benda yang mengandung makna dua (tasniah), dan بَكْرُوْنَ kalau ingin menjadikannya mengandung makna jamak (jamak muzakkar salim).

Begitu juga dengan kata ضَرَبَ jika dimaksudkan untuk menyatakan perbuatan yang telah terjadi (telah memukul), يَضْرِبُ kalau dimaksudkan untuk mengungkapkan makna sedang atau akan berlangsung (sedang atau akan memukul), dan اِضْرِبْ kalau dimaksudkan sebagai perintah (pukullah.!).

Kemudian Ibn Malik menegaskan pada bait kedua, bahwa harkat bina untuk kalimat yang mabni (baik isim, fiil, atau pun harf) dapat dibagi menjadi empat pembagian, yaitu :

Pertama, bina sukun. Sukun adalah harkat bina asli untuk kalimat yang mabni, karena harkat tersebut dianggap sebagai harkat yang paling ringan di antara harkat-harkat yang lain. Harkat bina ini terdapat pada kalimat isim, fiil, dan harf seperti pada contoh كَمْ – اِضْرٍبْ – أَجَلْ dan lain-lain.

Kedua, bina fatah. Terdapat pada kalimat isim, fiil, dan harf seperti pada contoh أَيْنَ – قَامَ – أَنَّ.

Ketiga, bina kasrah. Terdapat pada kalimat isim dan harf saja seperti pada contoh أَمْسِ – جَيْرِ.

Keempat, bina dommah. Terdapat pada kalimat isim dan harf saja seperti pada contoh حَيْثُ – مُنْذُ.

Note : Pada dasarnya semua kalimat yang mabni harus berharkat sukun, namun dalam kenyataannya sebagiannya ada yang berharkat dommah, fatah, dan kasrah. Hal itu disebabkan karena keberadaan faktor lain yang menyebabkan dia berharkat seperti untuk melepaskan dua huruf yang sukun dan lain-lain. Allahu A’lam

Ditulis oleh : Yunal Isra

Peneliti dan Tutor U’L CEE Institute