Tanda-Tanda Fiil, Harf, dan Isim Fiil

12369118_515242968665864_4848244782946666775_nSetelah kemaren kita mengkaji tentang tanda-tanda kalimat isim (kata benda) dalam Bahasa Arab, maka pada kajian kali ini, kita akan masuk pada pembahasan tanda-tanda Fi’il (kata kerja) dan harf (kata depan/penghubung) dalam Bahasa Arab. Hal itu dirumuskan Ibn Malik pada 4 bait berikut :

بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي # وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْلٌ يَنْجَلِي

Fiil bisa dikenali dengan huruf ta yang terdapat pada lafadz فَعَلْتَ dan أَتَتْ serta nun pada lafadz أَقْبِلَنَّ.

سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ # فِعْلٌ مُضَارِعٌ يَلِي لَمْ كَيَشمْ

Selain isim dan fi’il ada juga kalimat huruf seperti lafadz هَلْ, فِيْ, dan لَمْ yang biasa mengiringi Fiil Mudhori’ seperti pada lafadz لَمْ يَشَمْ.

وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِنْ وَسِمْ # بِالنُّوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Sementara itu Fiil Madhi tandailah ia dengan keberadaan huruf ta (di akhirnya) dan dengan nun (taukid) tandailah Fiil Amar jika ia mengandung makna perintah.

وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ # فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Jika perintah tersebut tidak bisa menerima nun di akhirnya, maka dia hanyalah isim fiil seperti lafadz صَهْ  dengan حَيَّهَلْ.

Fiil (kata kerja) dalam Bahasa Arab dapat ditandai dengan beberapa tanda tergantung jenisnya, apakah dia Fiil Madhi (kata kerja untuk masa lalu), Mudhari’ (kata kerja untuk masa sekarang dan yang akan datang), atau Amar (kata kerja perintah). Berikut tanda masing-masing :

Pertama, Fiil Madhi dapat ditandai dengan keberadaan ta fail atau yang disebut juga dengan dhomir rafa yang berharkat di akhirnya seperti pada contoh فَعَلْتَ dan keberadaan ta taknis yang sakin (ta yang menunjukkan makna perempuan) pada akhirnya jika fail/pelaku dari fiil tersebut berjenis kelamin perempuan, seperti pada contoh فَعَلَتْ. Akhir Fiil Madhi selalu fatah selama tidak dihubungi oleh waw jamak atau dhomir fail yang berharkat seperti فَعَلَ dan Fiil Madhi juga bisa menerima kata-kata قَدْ (yang bermakna sungguh/tahqiq) di awalnya, seperti قَدْ قَامَتْ.

Kedua, Fiil Mudhari’ ditandai dengan keberadaan huruf mudhoro’ah yang empat di depannya, yaitu huruf hamzah, nun, ya, dan ta seperti pada contoh أَفْعَلُ – نَفْعَلُ – يَفْعُلُ – تَفْعُلُ. Kemudian Fiil Mudhari’ juga bisa ditandai dengan kemungkinan masuknya huruf nasab dan jazam di awalnya seperti لَمْ يَضْرِبْ/ لَنْ يَضْرِبَ. Selanjutnya fiil ini juga bisa ditandai dengan kemungkinan masuknya nun taukid tsaqilah (nun bertasydid yang berfungsi untuk memperkuat makna sebuah fiil) pada akhirnya seperti pada contoh يَضْرِبَنَّ dan nun taukin khafifah (nun sukun yang juga berfungsi untuk memperkuat makna sebuah fiil) seperti pada contoh يَضْرِبَنْ. Akhir Fiil Mudhori’ selalu rafak selama tidak didahului oleh huruf nasab dan jazam serta ia akan bermakna istiqbal (kejadian yang akan terjadi pada masa yang akan datang) secara khusus jika didahului oleh lafadz سَ/سَوْفَ/إِنْ/أَنْ/لَنْ.

Ketiga, Fiil Amar dapat ditandai dengan kandungannya yang mengisyaratkan perintah pada masa yang akan datang. Kemudian dengan keberadaan huruf ya muannas mukhatabah (ya yang menunjukkan makna perempuan) di akhirnya seperti pada lafadz اُفْعُلِيْ. Selain itu Fiil Amar juga bisa menerima nun taukid tsaqilah dan nun taukid khafifah di akhirnya sebagaimana yang juga berlaku pada Fiil Mudhori’. Akhir Fiil Amar selalu sukun jika tidak dihubungi oleh waw jama’, alif tasniah, ya muannas mukhatabah, atau nun jamak inats.

Sedangkan kalimat harf (kata depan/penghubung) ditandai dengan ketiadaan tanda-tanda isim dan tanda fiil pada kalimat tersebut seperti pada lafadz هَلْ – فِيْ – لَمْ. Kemudian dalam prakteknya kalimat harf terbagi kepada 3, yaitu pertama, ada huruf yang hanya masuk ke kalimat isim seperti huruf jar (مِنْ dan teman-temannya) dan huruf qasam (وَا dan temannya). Kedua, ada huruf yang hanya masuk ke kalimat fiil seperti huruf nasab (أَنْ dan temannya) dengan huruf jazam (لَمْ dan temannya). Dan ketiga ada huruf yang bisa masuk pada keduanya seperti huruf istifham (هَلْ dan sebagainya).

Catatan : Kalau ada sebuah kalimat yang mengandung makna fiil tapi dia tidak bisa menerima tanda-tandanya, maka kalimat tersebut disebut juga dengan Isim Fiil seperti lafadz صَهِ yang bermakna اُسْكُتْ (diamlah kamu.!). Allahu A’lam

Ditulis oleh Yunal Isra

Peneliti dan Tutor U’L CEE Institute