Tanda-Tanda Isim (Kata Benda)

12391084_515242541999240_4663455807054259938_nSetelah kemaren kita mengkaji tentang unsur-unsur kalimat dalam Bahasa Arab yang terbagi kepada tiga, yaitu isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan harf (kata depan/penghubung), maka pada kajian kali ini, kita akan masuk kepada pembahasan cara mengenali kalimat isim. Hal itu dirumuskan Ibn Malik pada bait berikut :

بِالْجَرِّ وَالْتَنْوِيْنِ وَالْنِّدَا وَأَلْ # وَمُسْنَدٍ لِلاسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan jar, tanwin, nida, dan alif lam, dan musnad, isim dapat dibedakan dari yang lain (fi’il dan harf).

Bait di atas menyimpulkan bahwa isim (kata benda) dalam sebuah rangkaian kalimat dapat ditandai dengan beberapa ciri sebagai berikut :

Pertama, kondisinya yang berbentuk khafad/Jar, yaitu kasrah yang muncul pada akhir sebuah kata benda yang disebabkan oleh amil yang berfungsi mengkasrahkannya. Dalam hal ini amil yang bekerja menjarkan isim itu ada yang berbentuk huruf seperti huruf jar/khafad مِنْ – إِلَى – عَنْ – عَلَى – فِيْ – رُبَّ – الْبَاءُ – الْكَافُ – اللَّامُ)) dan huruf qasam (وَا – بَا – تَا), ada juga yang berbentuk isim (mudhof yang menjarkan mudhofun ilaih dalam susunan idhofah) seperti contoh بَيْتُ اللهِ, dan ada juga khafad karena mengikut kepada kalimat sebelumnya yang juga berkondisi khafad sebagai naat (sifat), athaf (penghubung), taukid (penguat), dan badal (pengganti). Ketiga amil tersebut terhimpun dalam contoh berikut : مَرَرْتُ بِغُلاَمِ بَكْرٍ الْفَاضِلِ (Saya bertemu dengan pembantu si Bakar yang baik).

Kedua, isim juga bisa ditandai oleh keberadaan tanwin (baris dua di atas, di bawah, dan di atas) pada akhirnya. Baik tanwin tamkin (tanwin yang terdapat pada isim-isim yang mu’rab seperti tanwin pada زَيْدٌ), tanwin tankir (tanwin yang terdapat pada isim-isim yang mabni untuk membedakan antara yang makrifah dengan yang nakirah dari isim tersebut seperti tanwin pada سِيْبَوَيْهٍ), tanwin muqabalah (tanwin yang terdapat pada jamak muannas salim seperti tanwin pada مُسْلِمَاتٌ), tanwin iwadh (tanwin yang menjadi ganti dari jumlah seperti tanwin pada حِيْنَئِذٍ, atau ganti dari isim seperti tanwin pada كُلٌّ, atau ganti dari huruf seperti tanwin pada جَوَارٍ), maupun tanwin tarannum dan al-ghali (tanwin yang terdapat pada bait syiir bahasa Arab dengan tujuan memperbagus bacaannya).

Ketiga, isim juga bisa ditandai oleh keberadaan huruf nida (huruf yang digunakan untuk memanggil orang lain seperti huruf يَا yang berarti wahai) sebelumnya, seperti yang terdapat pada contoh يَا زَيْدُ.

Keempat, isim juga bisa ditandai dengan keberadaan alif lam di awalnya seperti pada kata الرَّجُلُ. Akan tetapi perlu diingat bahwa tanwin dengan alif lam tidak bisa berkumpul dalam satu kata. Jika sebuah kata sudah bertanwin maka ia tidak boleh lagi beralif lam dan begitu juga sebaliknya.

Kelima, isim juga bisa ditandai dengan isnad ilaih (yaitu keberadaannya dalam kalimat nominal atau kalimat yang terdiri dari subjek dan prediket) seperti yang terdapat pada contoh زَيْدٌ قَائِمٌ. Pada contoh ini, lafadz زًيْدٌ sudah bisa dipastikan sebagai isim, karena selain bertanwin ia juga merupakan tempat bersandarnya sebuah perbuatan قَائِمٌ (berdiri). Karena secara logika tidak mungkin yang akan dijadikan sandaran perbuatan itu kata kerja (fi’il) apalagi huruf. Allahu A’lam

Ditulis oleh Yunal Isra

Peneliti dan Tutor U’L CEE Institute