WACANA TERORISME DALAM CERPEN SHABAH ALWARD KARYA NAJIB MAHFUZ

صباح الورد نجيب محفوظ

WACANA TERORISME DALAM CERPEN SHABAH ALWARD
KARYA NAJIB MAHFUZ

OLEH: DENDEN TAUPIK HIDAYAT, SS., LC.

1. Geliat Kesusastraan Arab Modern di Mesir
Geliat kesusastraan di Mesir terbilang sangat aktif dan membahana.Terbukti dengan banyaknya karya-karya sastra yang muncul ke permukaan bak semut yang keluar dari kandangnya. Puisi (syi’r), cerpen (qishshah qashirah), novel (riwayah), hingga drama (masrahiyyah) memenuhi setiap penjuru kota Mesir. Pasca reformasi kebudayaan yang dirintis oleh Muhammad Ali Pasya sebagai pemimpin Mesir saat itu, khususnya bidang kesusastraan Arab kembali mengalami kebangkitan. (Philip K. Hitti, 2010: 925)
Lebih dari 6 abad lamanya, Sejak tahun 1258 M hingga 1805 M kesusastraan Arab mengalami hibernasi yang sangat panjang. (Hanna al-Fakhuri, 1986, ). Dan penjajahan Perancis di bawah komando Napoleon Bonaparte, telah membuat dunia Arab khususnya Mesir bangkit dari ranjangnya dan kembali berlari menuju puncak.Pencerahan yang dibawa oleh Perancis sebagai implikasi dari Renaissance Eropa terhadap Mesir menyadarkan dunia Arab untuk bersegera melirik dunia Eropa.Fasilitas-fasilitas pendidikan, perekonomian, dan bidang-bidang lainnya mengalami perubahan yang progressif. Perancis selama pendudukannya sejak tahun 1798-1801 M telah menanamkan semangat pembaharuan dalam bidang militer, pendidikan, pertanian, industri, perdagangan, transportasi dan sebagainya kepada rakyat Mesir di bawah kepemimpinan Muhammad Ali Pasya (Philip K. Hitti, 2010).
2. Pertumbuhan Kelompok Islam Radikal Modern di Mesir
Namun, di samping itu, banyak kebijakan Perancis yang merugikan rakyat Mesir, seperti pajak yang tinggi dan budaya yang berlawanan dengan Islam (Mujani dan Hj Ismail, 2010).Sehingga timbul pemberontakan-pemberontakan rakyat Mesir yang tidak puas dengan kondisi seperti itu.Para sastrawan pun ikut berjuang melalui karya sastranya untuk melawan pemerintahan Perancis.Ditambah lagi, Perancis membuat perjanjian dengan golongan Yahudi yang berisikan pemberian lahan untuk umat Yahudi di tanah Palestina.Tindak lanjut isi perjanjian tersebut terus bergulir hingga sampai di meja PBB.Wilayah Palestina setelah dikuasai Inggris kemudian dibagi oleh PBB ke dalam beberapa wilayah.Sebagian wilayahnya diberikan kepada kaum Yahudi. Keputusan ini membuat geram rakyat Mesir, bahkan seluruh negara Arab sehingga meletuslah perang antara negara-negara Arab, antara lain Libanon, Suriah, Yordania,Mesir, dan Irak dengan Israel pada tanggal 14 Mei 1948. Namun, Israel berhasil memenangkan peperangan tersebut meskipun dikepung oleh banyak negara Arab.
Peristiwa peperangan di atas dan kekalahan Mesir atas Israel semakin menyemarakkan semangat perlawanan dan revolusi.Di bawah pemerintahan Raja Faruq yang korup, gerakan-gerakan revolusi tumbuh subur.Muncullah kemudian gerakan Ikhwan al-Muslimin di bawah kepemimpinan Hassan al-Banna. Selain itu, muncul juga gerakan revolusi lain di bawah kepemimpinan Jamal Abd al-Nasir, Anwar Sadat, dan Muhammad Najib. Mereka mengatasnamakan diri mereka sebagai Para Perwira Bebas (al-Dubbat al-Ahrar).
Gerakan al-Dubbat al-Ahrar kemudian berhasil menggulingkan kekuasaan Raja Faruq melalui kudeta militer pada tanggal 23 Juli 1952. Ketegangan antara tiga kubu politik saat itu: generasi sekuler tua Raja Faruq, reformis Islam Ikhwan al-Muslimin, dan generasi terdidik dalam kemiliteran, berakhir di tangan kelompok ke tiga. (Sukron Kamil, 2013)
Pemerintahan di bawah elit militer mengganti sistem pemerintahan saat itu, dari sistem parlementer menjadi presidensial dengan partai tunggal.Pergantian sistem ini dipandang negatif oleh kelompok reformis Islam, Ikhwan al-Muslimin. Puncaknya pada masa pemerintahan Mesir berpindah tangan kepada Anwar Sadat, muncul empat kelompok Islam garis keras selain Ikhwan al-Muslimin, yaitu Jama’ah al-Muslimin (Kelompok umat Islam) di bawah pimpinan Syukri Mustafa, Jama’ah Syabab Muhammad (Para Pengikut Muhammad) di bawah pimpinan Shalih Sirriyyah, al-Jama’ah al-Islamiyyah (Kelompok Islam), dan kelompok Tanzhim al-Jihad (Organisasi Jihad) di bawah kepemimpinan Abd al-Salam Faraj.(Sukron Kamil, 2013)
Kelompok-kelompok radikal tersebut berusaha merebut kekuasaan dari tangan kaum militer dengan segala cara. Keberhasilan mereka hampir terpenuhi saat Anwar Sadat mereka bunuh dalam Parade Militer 6 Oktober 1981.Namun, kendali pemerintahan langsung diambil alih oleh Husni Mubarak dan segera mengusut pembunuhan tersebut.Banyak para pengikut aliran radikal yang ditangkap oleh pihak kepolisian lalu sebagiannya dihukum mati.
3. Munculnya Sastra Perlawanan (Resistance Literature) terhadap Aksi Terorisme di Mesir
Semangat nasionalisme Arab di Mesir yang semakin tinggi sebagai akibat kekalahan perang dari Israel dan semangat perlawanan terhadap kelompok Islam radikal, menjadi sorotan utama para sastrawan Mesir.Timbul sebuah genre sastra baru yang dikenal dengan istilah Adab al-Muqawamah(Sastra Perlawanan/ Resistance Literature).
Semangat perlawanan tidak hanya ditujukan kepada ketidakadilan pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dengan kekuasaan, baik politik maupun ekonomi, namun juga terhadap aksi-aksi terorisme (Irhabiyyah) yang marak dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstrim dengan mengatasnamakan agama Islam.
4. Najib Mahfuz sebagai Pelopor Sastra Perlawanan Terhadap Aksi Terorisme
Adalah Najib Mahfuz, seorang sastrawan Mesir yang merintis penulisan novel dengan mengangkat wacana perlawanan terhadap aksi-aksi terorisme tersebut. Pada masa hidupnya, terjadi banyak pergolakan politik dalam dan luar negeri.Di dalam negeri, sering terjadi bentrokan berdarah antara kelompok gerakan revolusi termasuk kelompok ekstrim kanan di bawah kendali Ikhwan al-Muslimin dengan pihak keamanan.Pada tahun 1972, ia melahirkan novel pertamanya tentang aksi terorisme yang berjudul al-Marâyâ (cermin). Disusul kemudian novel al-Tanzhim al-Sirri pada tahun 1984, novel Yaum qatl al-Za’im tahun 1985, kumpulan cerpen Shabah al-Ward tahun 1987, dan Novel Qusytamir tahun 1988. (Abdullah bin Fahd al-Ghanim, 2012).
Salah satu karya sastra hasil buah tangan Najib Mahfuzh adalah kumpulan cerpen yang diberi judul Shabah al-Ward.Di dalam kumpulan cerpen tersebut, Najib Mahfuz menulis tiga judul cerpen: pertama, Umm Ahmad(Ibu Ahmad); kedua, Shabah al-Ward (Pagi Semerah Mawar); dan ketiga, As’adallâh Masâ’ak (Semoga Allah memberimu kebahagiaan).
5. Shabah al-Ward: Keluarga Syukri Bahjat
Judul cerpen yang akan dikaji dalam kesempatan ini adalah Shabah al-Ward yang terdiri atas 15 sub judul. Tiap sub judul menceritakan sebuah keluarga dan kehidupannya. Semua keluarga yang diceritakan di dalam cerpen tersebut tinggal bersebelahan satu sama lain, tepatnya di Jalan Raya Ridhwan Lama yang terletak di antara Jalan raya al-`Abbasiyyah dan Janayin. Keluarga tersebut adalah keluarga Isma’il, Murad, Qurba, Jamha, Makki, Qaysun, Hasbullah Wafraj, Syukri Bahjat, Sanawi, Fanjari, Kasyif, Dhargham, Alawi, Kinasyah, dan keluarga Adilah al-Hurrah.
Kajian ini tertuju kepada kehidupan keluarga Syukri Bahjat yang bersebelahan dengan keluarga Hasan Qaysun. Najib Mahfuz menulis cerpen ini sebagai kritikan terhadap pemahaman pemuda-pemudamuslim yang dangkal tentang ajaran agama Islam. Kaum muda yang begitu mudah terpengaruh oleh pemahaman yang instan dalam hal sistem ketatanegaraan, amar makruf, dan nahi mungkar. Dari pemahaman ini, para pemuda sampai berani melakukan tindakan-tindakan ekstrim terhadap orang lain yang tidak sefaham dengan mereka, termasuk orang tua mereka.
Keluarga Syukri Bahjat terdiri atas ayah bernama Samih, ibu bernama Ni’mat Hanim, anak lelaki semata wayang bernama Syukri, dan istrinya yang bernama Aminah.
Tokoh yang ditonjolkan di dalam cerpen ini adalah Syukri, anak dari Samih.Syukri merupakan salah seorang mahasiswa salah satu fakultas kedokteran di sebuah universitas di Mesir.Perawakannya begitu terawat dan termasuk mahasiswa yang pandai.Awalnya, tidak terjadi apa-apa dengan Samih.Ia berprilaku seperti orang biasanya. Namun, di tengah-tengah proses perkuliahannya, tiba-tiba ia menjadi pendiam dan suka menyendiri. Kemudian ia menjadi sangat agresif dan ekstrim. Begitu mudahnya ia menuduh orang tuanya keluar dari agama Islam. Berikut penggalan dialog di antara Samih dan anaknya, Syukri (Najib Mahfuz, 1987: 64):
Syukri : ألستما مسلمين؟
Alastuma Muslimain? (Apakah kalian berdua muslim?)
Samih : طبعا
Thab’an (tentu)
Syukri : المسلم ليس مجرد اسم ولكنهعقيدة وسلوك
Al-muslim laysa mujarrad ism walakinnahu ‘aqidah wa suluk (Muslim itu bukan hanya nama tetapi juga akidah dan cara hidup)
Samih : المسلم مسلم في جميع الأحوال
Al-muslim muslimun fi jami’ al-ahwal (Ya, muslim itu adalah muslim dalam semua keadaan)
Syukri : كلا، إما أ تكون مسلما أو لا
Kalla, imma an takun musliman aw la! (Tidak, pihannya antara engkau muslim atau bukan!)
Samih : هذا رأيك؟
Hadza ra’yuk? (seperti itukah pendapatmu?)
Syukri : نعم، مذ هداني الله إلى طريقه
Na’am, mudz hadani Allah ila thariqih (ya, semenjak Allah menunjukkan jalan-Nya kepadaku!)
Syukri di dalam percakapan di atas mempertanyakan status keislaman kedua orang tuanya.Ia langsung dengan berani mempertanyakan keislaman tersebut di hadapan keduanya. Syukri berpendapat bahwa seorang muslim harus mengimplementasikan semua ajaran Islam secara formal di dalam semua lini kehidupan, baik itu keyakinan maupun way of life, tidak cukup mengaku saja sebagai muslim.
Samih sangat kaget mendengar anaknya berkata seperti itu. Pendapatnya tentang keislaman seseorang tetap menempel di dalam dirinya selama ia masih berakidah islam dan menjalankan segala kewajibannya, ditentang oleh anaknya, Syukri yang mengharuskan adanya formalisasi Islam dalam setiap aspek kehidupan.
Bahkan selang ibunya menasehatinya, Syukri menganggap kedua orang tuanya berada di bawah bayang-bayang jahiliyah. Sang ibu mulai mencurigai anaknya telah terpengaruh oleh kelompok pengusung negara Islam radikal di Mesir yang saat itu sedang mencuat ke permukaan.Sesuai konteks di mana Najib Mahfuz menulis cerpen ini, meskipun tidak disebutkan secara jelas olehnya, kelompok tersebut mengarah kepada kelompok Ikhawan al-Muslimin yang dibentuk oleh Hassan al-Banna. Berikut isi percakapannya (Najib Mahfuzh, 1987: 64-65)
Ibu : هل انضممت إلى التيارات التي يتحدثون عنها؟
Hal indhamamta ila al-tayyarat allati yatahaddatsun ‘anha? (Apakah Engkau bergabung dengan gerakan-gerakan menyimpang itu yang sekarang sedang ramai dibicarakan orang-orang?)
Syukri : هداني الله إلى طريقه!
Hadaniyaallah ila thariqih! (Allah telah menunjukkan jalan-Nya kepadaku)
Ibu : إنه طريق شديد الخطورة
Innahu thariqun Syadid al-khuthurah! (Nak, itu berbahaya!)
Syukri : هو طريق الله ولا يهم ما عدا ذلك
Huwa thariqullah wa la yahumm ma ‘ada dzalik! (tidak! Itu jalan Allah. Selain itu tidak penting!)
Samih : لم تحدثنا من قبل بهذه اللهجة؟
Lima tuhadditsna min qablu bihadzih al-lahjah? (Mengapa sekarang Kau berani berkata kepada kami dengan perkataan seperti itu?)
Syukri كنت في غيبوبة الجاهلية!
Kunta fi ghaybubat al-jahiliyyah! (Engkau sekarang berada di bawah bayang-bayang kejahiliyahan!)
Hamim لا أقبل أن تخاطبني بهذا الأسلوب!
La aqbal an tukhatibni bi hadza al-uslub!
(Aku tidak terima dengan tuduhan ini!)
Syukri انظر! طالما شجعتني على الصدق والصراحة، ها أنت تضيق بمن يخالف رأيك!
Unzhur! Thalama syajja’tani ‘ala al-shidq wa al-sharahah. Ha ant tadhiq bi man yukhalif ra’yak! (lihatlah! Selama ini Kau menyuruhku untuk berkata jujur dan terbuka, namun kini Kau menyudutkan orang yang tidak sependapat denganmu!)
Samih فليمض كل في حياته كما يرضاها
Falyamdhi kullun fi hayatih kama yardhaha (Nak, biarlah semuanya berjalan sebagaimana mestinya)
Syukri غير ممكن، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: “من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وهو أضعف الإيمان”
Ghair mumkin, qala rasulullah saw: “man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi, fa’inlam yastathi’ fabilisanih, fa’inlam yastathi’ fabiqalbih, wahuwa adh’af al-iman” (Tidak bisa! Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa yang melihat sebuah kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, cegah dengan lidahnya. Jika tidak mampu juga, cukup mengingkarinya di dalam hati. Namun pengingkaran saja menandakan kelemahan iman.”)
Sang ibu berusaha mengembalikan anaknya ke keadaannya yang semula.Ia menyatakan bahwa kelompok yang anaknya masuki termasuk kelompok berbahaya. Namun, Syukri sudah terdoktrin kuat oleh kelompok tersebut sehingga ia dengan lantang menyatakan bahwa kelompoknya itu merupakan satu-satunya jalan Allah yang harus diikuti.Samih sebagai seorang ayah merasa tersinggung dengan ulah anaknya itu. Lalu ia ingin tahu alasan Syukri berani dengan lantang berkata tidak sopan kepada kedua orang tuanya. Bukannya mendapat jawaban yang menenangkan, Samih malah menerima tamparan keras dari perkataan anaknya bahwa dirinya sedang terbawa arus budaya jahiliyah.
Sang ayah tidak merasa bosan untuk menyadarkan anaknya.Ia lalu menekankan anaknya untuk tidak berlebihan dalam menghadapi pergolakan sosial politik saat itu. Namun, Syukri tetap bersikeras untuk terus berjuang melawan sistem pemerintahan saat itu yang tidak berlandaskan Islam.Ia mendasarkan argumennya kepada hadis Rasulullah saw tentang amar makruf dan nahi mungkar.
Pembacaan Syukri terhadap hadis tersebut bersifat tekstual, tidak kontekstual.Padahal, pemahaman hadis itu harus memakai keduanya, pemahaman secara tekstual dan kontekstual.Inilah yang menjadi sumber penyakit aliran-aliran radikal dalam agama Islam, yaitu pemahaman teks-teks sumber syariat secara tekstual saja.Cara memahami hadis amar makruf dan nahi mungkar secara tekstual merupakan salah satu ciri kelompok radikal utama dan pertama dalam perjalanan agama Islam, khususnya di dunia Arab, yaitu kelompok Muktazilah.
Ibn Taymiyyah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa’ menyatakan bahwa kelompok Muktazilah menganggap penguasa sebuah pemerintahan yang terindikasi melakukan kezaliman atau tidak berjalan di atas syariat Islam, harus diperangi bahkan dibunuh (qital al-‘a’immah). Sikap tersebut tidak sejalan dengan faham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang menghindarkan diri dari perbuatan makar kepada penguasa selama tidak mendorong kepada kekafiran atau menghalang-halangi umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya. (Ibn Taymiyyah, 1976: 37 )
Di akhir cerita, kedua orang tua Syukri sangat kaget sekaligus sedih mendengar anak lelaki satu-satunya ditangkap oleh polisi dan dihukum gantung dengan tuduhan pembunuhan.Syukri digelandang ke kepolisian karena ikut terlibat dalam bentrokan berdarah antara kelompok ekstrim kanan dengan polisi.
Akhir cerita yang menggenaskan bagi Syukri yang terlibat di dalam kelompok Islam garis keras menunjukkan bahwa semua oknum di alam realita yang memiliki kemiripan dengan tokoh Syukri akan mengalami akhir yang menggenaskan pula.
Daftar Pustaka
Al-Fakhuri, Hanna. 1986. Al-Jami’ fi Tarikh al-Adab al-‘Arabi.Beirut: Dar al-Jil.
Al-Ghanim, Abdullah bin Fahd. 2012. Al-Irhab fi al-Riwayah al-Su’udiyyah. Riyadh:Jam’iah al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah.
Hitti, Philip K. 2010. History of Arab. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Kamil, Sukron. 2013. Najib Mahfuzh: Sastra, Islam, dan Politik. Jakarta: Dian Rakyat.
Mahfuzh, Najib. 1987. Shabah al-Ward. Kairo:Dar Mishr.