Terrorism Literature in Contemporary Indonesia

Terrorism Literature in Contemporary Indonesia

Oleh: Denden Taupik Hidayat, SS., Lc.

BUKU NOVEL TERORIS1

Pendahuluan

Karya sastra merupakan representasi kehidupan sosial, baik yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di luar pengarang (Sapardi Djoko Damono (ed.), 1978:1). Realitas kehidupan yang menarik, ramai dibicarakan orang, dan menyentuh sifat kemanusiaan, menjadi tema utama pengarang di dalam karya sastranya. Di dunia sekarang ini, terutama saat terjadinya penghancuran gedung WTC dan Pentagon di Amerika Serikat, isu terorisme mencuat begitu kuat ke permukaan. Kemudian peristiwa bom Bali I pada tahun 2002 dan Bom Bali II pada tahun 2005 di Indonesia, menambah suram dunia, khususnya Indonesia.

Semua aksi teror di atas merujuk kepada kelompok-kelompok radikal Islam yang telah didoktrin untuk membinasakan pihak-pihak yang mereka anggap sebagai musuh Islam. Keadaan ini telah membuat Islam tercemar bahkan dianggap sebagai agama teroris. Dari sinilah, kemudian para pakar dari segala bidang termasuk para sastrawan di seluruh dunia, ikut turun tangan dalam menghadapi kasus global tersebut. Semua elemen masyarakat dan pemerintah mengerahkan segala kemampuannya untuk menanggulangi aksi terorisme ini.

Pemerintah Indonesia telah membentuk satuan khusus penanggulangan terorisme yang disebut Densus 88. Hard power ini berhasil menangkap dan mengeksekusi para teroris, dari mulai kelas teri hingga kelas kakap. Namun, banyaknya pelaku aksi terorisme yang ditangkap tidak menyurutkan aksi-aksi terornya. Pemboman kerap terjadi bahkan muncul aksi baru yaitu perampokan salah satu bank besar di Indonesia pada tahun 2010. Tindakan yang diambil pemerintah dengan menembak mati para tersangka kasus terorisme dalam kenyataannya tidak membuat ciut kelompok radikal Islam. Bahkan memicu mereka untuk melakukan aksi balas dendam sebagaimana yang kita saksikan akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, diperlukan soft power yang bisa menyentuh secara langsung jiwa dan hati kelompok radikal tersebut. Langkah tersebut juga marak dilakukan atas dukungan pemerintah oleh para ulama, psikolog, dan termasuk para sastrawan sendiri yang peduli terhadap isu kemanusiaan. Para sastrawan menuangkan segala isi perasaan, pemikiran, dan pandangan mereka tentang isu terorisme melalui karya sastra. Mereka ingin agar masyarakat bisa mengerti dan waspada terhadap aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama. Genre puisi, novel, cerpen, dan genre-genre sastra lainnya serempak mengangkat isu terorisme sebagai bentuk perlawanan dan pemberi pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya terorisme.

Di Indonesia, geliat novelis dalam merespon isu terorisme terbilang cukup aktif. Penulis menemukan enam buah novel yang mengangkat isu terorisme. Semuanya sepakat bahwa aksi terorisme adalah sebuah kejahatan yang mesti dihentikan. Novel-novel tersebut adalah Demi Allah Aku Jadi Teroris karya Damien Dematra (2009), Pengantin Bom karya Sidik Jatmika (2009), Naksir Anak Teroris karya Ditta Arieska (2009), Pengantin Teroris karya Abu Ezza (2010), Pedang Rasul karya Jusuf A.N. (2013), dan Aku Istri Teroris karya Ebidah El Khaliqy (2014).

Jika kita perhatikan tahun terbit novel-novel di atas, Damien Dematra, Sidik Jatmika, dan Ditta Arieska berada di garis depan munculnya novel terorisme. Disusul kemudian oleh Abu Ezza, Jusuf A.N. dan Ebidah El Khaliqy. Dari tahun 2009 hingga sekarang ini, sudah terlihat semangat dan bukti nyata novelis Indonesia dalam misi pemberantasan aksi terorisme melalui karya sastra. Pada rentang waktu yang cukup panjang tersebut, para novelis memiliki semangat zaman yang sama dan khas sehingga di dalam novel-novelnya terdapat banyak persamaan dengan berbagai modifikasinya. Apa dan bagaimana bentuk persamaan tersebut dan di mana letak perbedaannya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis menggunakan pendekatan Geistesgeschichte. Pendekatan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa setiap periode memiliki semangat zaman (time spirit) yang khas (Wellek dan Warren, 1989: 147). Latar sosial yang sama memungkinkan menghasilkan karya yang mirip. Penulis menemukan kemiripan dari segi struktur, penokohan, maupun tema dalam keenam novel di atas. Di dalam makalah ini, penulis hanya meneliti tiga buah novel, yaitu Demi Allah Aku Jadi Teroris, Pengantin Teroris, dan Pengantin Bom, untuk melihat sejauh mana kemiripan tersebut.

Novel-novel Indonesia Bertemakan Terorisme

Varian Respon Pengarang Terhadap Isu Terorisme

Dalam merespon isu terorisme, para pengarang memiliki selera yang berbeda di dalam proses penceritaannya. Di antara mereka ada yang menceritakan aksi terorisme apa adanya sebagaimana dituturkan oleh salah seorang tokoh aksi terorisme yang tobat. Gaya penceritaan seperti ini dilakukan oleh Abu Ezza dalam novelnya Pengantin Teroris. Ia menuangkan semua cerita fakta yang dituturkan oleh Nasir Abbas, salah seorang otak aksi terorisme di Indonesia yang membelot dari kelompoknya, Jamaah Islamiyah. Abu Ezza hanya mengganti nama-nama tokohnya dengan nama fiktif, seperti tokoh Sukree sebagai representasi Nasir Abbas.

Respon yang berbeda datang dari Sidik Jatmika dalam novelnya Pengantin Bom. Meskipun peristiwa yang diangkat sama dengan tragedi di dalam novel Pengantin Teroris karya Abu Ezza, namun Sidik melihat sisi lain dari aktor aksi bom bunuh diri. Ia memandang bahwa para teroris tidak serta merta melakukan aksi sadis tersebut kecuali ada “sesuatu” yang mendorongnya di luar faktor doktrin agama. “sesuatu” tersebut dapat berupa faktor sosial, ekonomi, dan pendidikan. Ia ingin menunjukkan bahwa aksi mereka timbul dari kesalahan pemerintah juga. Ketimpangan ekonomi dan sosial akibat sistem kapitalis yang dianut oleh pemerintah telah memperburuk kondisi warga kelas bawah. Oleh karena itu, Margiono sebagai tokoh utama dalam novel ini berniat melakukan aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot yang ia anggap sebagai simbol keangkuhan kaum kapitalis.

Selanjutnya, Damien Dematra dalam novelnya Demi Allah, Aku Jadi Teroris. Damien melihat virus terorisme telah menjangkiti lingkungan kampus. Di balik geliat aktivis kampus dalam mengikuti kegiatan keislaman terdapat bahaya yang mengancam mereka. Doktrin radikalisme Islam sering kali dimasukkan ke dalam otak para mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki semangat keislaman yang tinggi. Hingga akhirnya mereka rela melakukan apa saja yang diperintahkan oleh penanam doktrin tersebut, termasuk melakukan bom bunuh diri. Damien memandang bahwa tidak hanya pihak mahasiswa yang mudah terjangkiti dengan penyakit terorisme, namun juga mahasiswi yang memiliki stereotif lembut.

Sinopsis Novel

Novel Demi Allah Aku Jadi Teroris

Novel Demi Allah Aku Jadi Teroris mengangkat isu bom bunuh diri yang paling sering dilancarkan oleh kelompok Islam radikal. Damien menjadikan tokoh wanita sebagai pelaku bom bunuh diri tersebut, persis seperti apa yang dilakukan oleh Yasmina Khadra, seorang sastrawan Aljazair di dalam novelnya The Attack (2008). Ia mengawali ceritanya dengan perjalanan seorang mahasiswi kedokteran yang bernama Kemala. Kemala termasuk aktivis kampus yang berparas cantik dan gemar mengikuti kegiatan keislaman. Hingga akhirnya ia terperangkap ke dalam sebuah kelompok radikal Islam yang menganggap kafir semua orang di luar kelompok mereka.

Ia kemudian mendapatkan sebuah mandat untuk menjalankan tugas suci demi mendapatkan surga. Ia berencana meledakkan sebuah kafe yang bernama Bistro America. Sebelum tiba masa misi bom bunuh diri tersebut, ia berkenalan dan sering bertemu dengan Prakasa. Ia adalah seorang anggota Intel yang sedang menyelidiki Kemala terkait keterlibatannya dalam aksi terorisme. Dari pertemuan itu, tanpa diduga benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua,

Damien mengakhiri ceritanya dengan pertemuan antara dua insan yang saling jatuh cinta dalam diam itu di sebuah kafe tepat saat pelaksanaan misi bom bunuh diri. Prakasa berhasil menghentikan Kemala yang saat itu memegang remote control dengan menembak lengannya. Kemala kemudian masuk penjara dan taubat setelah menjalani terapi deradikalisasi di tahanan.

Novel Pengantin Bom

Wacana bom bunuh diri juga secara jelas digambarkan di dalam novel Pengantin Bom karya Sidik Jatmika. Ia adalah seorang dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UMY. Keahliannya dalam ilmu politik melahirkan banyak buku tentang isu-isu politik, baik di Indonesia maupun luar negeri. Meskipun bukan seorang novelis tulen, Sidik berusaha menuangkan perjalanan hidup seorang teroris dari awal hingga akhir hidupnya dalam jurang kebiadaban.

Peristiwa yang diangkat adalah aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot. Sidik memberi arahan kepada pembaca tentang bagaimana implikasi himpitan ekonomi dengan keterlibatan seseorang dalam aksi terorisme. Tokoh Gesang alias Margiono alias Kampret alias Manyul alias Abu Jihad (31 tahun). Ia adalah seorang buruh korban PHK di perusahaan tekstil Dae Jong Textilindo, Pulo Gadung. Lalu ia dipenjara atas tuduhan peledakan pabrik tekstil tersebut pada saat demo buruh di kawasan industri Pulo Gadung. Di sinilah awal mula dirinya masuk ke lingkungan kaum militan yang radikal. Perkenalannya dengan sesama napi yang bernama Abu Arifin membawanya menuju aksi bom bunuh diri. Setelah keluar dari penjara, ia selalu bersama Abu Arifin dan masuk Brigade Jihad. Di sana ia berlatih berperang, merakit bom, dan sebagainya. Hingga akhirnya, ia bersama teman-temannya berencana melakukan aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot. Sidik Jatmika menutup cerita novelnya dengan kematian semua pelaku bom bunuh diri.

Novel Pengantin Teroris

Begitu pula dengan novel Pengantin Teroris karya Abu Ezza. Kesamaan judul menjadi indikator persamaan isi cerita. Namun, ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Peristiwa yang diangkat sama-sama berupa aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot. Namun, tokoh utama di dalam novel Pengantin Teroris tidak dimatikan seperti apa yang dilakukan oleh Sidik Jatmika di dalam novelnya, Pengantin Bom. Abu Ezza memberi nama tokoh utamanya Sukree. Ia seorang yang kuat dalam beragama. Karena terlalu sering melihat aksi-aksi kekerasan di Palestina dan Afganistan, emosinya terbawa untuk ikut memerangi musuh Islam. Akhirnya ia menjadi anggota Jamaah Islamiah dan ikut berperang di Afganistan.

Sepulangnya dari peperangan, ia kembali ke Indonesia. Di Indonesia ia bertugas merekrut para “pengantin”. Dalam salah satu aksinya, ia mengutus dua orang untuk melancarkan aksi bom bunuh dirinya di Hotel JW Marriot. Tidak berselang lama, ia kemudian tertangkap oleh pihak berwajib dan dimasukkan ke dalam penjara. Setelah beberapa hari di penjara, barulah ia menyesali apa yang telah ia perbuat. Perlakuan sipir penjara yang sudah tua renta memiliki peran yang sangat besar dalam pertobatannya. Sipir tersebut seorang Nasrani yang sangat lembut dan menghormati Sukree saat ingin melakukan ibadah. Di akhir cerita, Sukree ikut serta membantu kepolisian dalam misi penangkapan para teroris dengan menceritakan semua aksinya.

Representasi Terorisme

Penanaman Bibit Terorisme

Tokoh utama pada Demi Allah Aku Jadi Teroris adalah Kemala, pada Pengantin Teroris adalah Sukree, dan pada Pengantin Bom adalah Margiono alias Gesang. Ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai tokoh utama karena menjadi perhatian utama pengarang dalam isi cerita. Intensitas kehadiran mereka di dalam cerita cukup tinggi dibanding tokoh-tokoh lainnya.

Baik Kemala, Sukree, maupun Margiono pada ketiga karya ini memiliki peran, watak, dan sifat yang sama. Kemala digambarkan sebagai orang yang semangat dalam mempelajari agama hingga akhirnya ia bisa bertemu dengan Ustaz Amir yang menghilangkan rasa hausnya terhadap ilmu agama (halaman 73). Begitu pula dengan Sukree yang mendapatkan bimbingan langsung dari Ustaz Halim (halaman 34). Sedangkan Margiono mendapatkan bimbingan keagamaannya di dalam penjara dari teman satu selnya yang bernama Abu Arifin (halaman 109).

Awal mula ketiganya masuk ke dalam kelompok Islam radikal adalah saat mereka mendapatkan bimbingan keagamaan itu. Isu utama yang membuat ketiga tokoh utama ini tercuci otaknya adalah isu ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di negara Republik Indonesia. Ketimpangan tersebut dapat berupa ketimpangan dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan, agama, dan bidang-bidang lainnya. Penyebab utama dari ketimpangan-ketimpangan tersebut adalah sistem kenegaraan yang tidak sesuai dengan hukum Allah. Sistem demokrasi menurut mereka adalah sistem buatan manusia, bukan sistem yang berasal dari Allah. Sistem yang berasal dari Allah hanya berupa Syariat Islam. Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk tunduk dan taat hanya kepada Syariat Islam. Oleh karena itu, ketaatan kepada hukum selain hukum Allah disebut kafir atau musyrik. Solusi yang ditawarkan oleh para pembimbing keagamaan mereka bertiga adalah hiijrah dari sistem demokrasi menuju sistem Syariat Islam.

Pada Demi Allah Aku Jadi Teroris, doktrinasi tersebut telihat pada obrolan antara jamaah yang terdiri dari Kemala, Aminah, Basimah, Rafa, Purbani, dan Nimas dengan Ustaz Amir.

“…dalam negara ini telah terjadi banyak kemasiatan. Kalian dapat melihatnya di koran-koran dan majalah. Bayi-bayi dibuang, terjadi banyak pembunuhan, penculikan, penganiayaan, mutilasi. Nah, mengapa semua ini terjadi?! Karena kita semua tidak hidup dalam sebuah negara yang melandaskan diri pada hukum Allah. Apa itu Hukum Allah?”

Purbani berbisik pelan, “Al-Qur’an”

“Tepat Sekali…” (halaman 77)

Kemudian Ustaz Amir dengan fasih, tenang, sabar, dan penuh keyakinan berbicara mengenai kehidupan yang ideal di bawah Syariah Islam sampai akhirnya, menjelang akhir pengajian, ia bertanya,”Apakah menurut kalian hal ini mustahil?”

“Tidak, hal ini bukan sebuah kemustahilan. Tapi bagaimana caranya?…” (halaman 78)

“…yang perlu kalian lakukan adalah melakukan hijrah ke dalam sebuah negara yang menerapkan hukum Islam secara penuh” (halaman 88)

 

Begitu pula dalam Pengantin Teroris, proses doktrinasi terhadap Sukree terlihat saat ia dan temannya, Rahman, berdiskusi dengan Ustaz Halim

 

“Akhi Sukree dan Akhi Rahman. Sesungguhnya kehidupan kalian sangatlah jauh dari tuntunan syariat yang sebenarnya. Karena kalian hidup dan berkumpul dengan orang-orang yang salah dalam memilih jalan kehidupan. Kalau Ana boleh mengajak. Mari berhijrah bersama Ana dan rekan-rekan kita yang lain untuk menjadi muslim yang sejati yang bisa mengamalkan kehidupan Islam secara sempurna. Apabila itu bisa kalian lakukan niscaya kemuliaan akan bisa kalian dapatkan dalam kehidupan dunia dan akhirat kalian”(halaman 36)

“…kalian harus meninggalkan keluarga kalian dan membuka lembaran kehidupan yang baru. Sebuah kehidupan yang serat dengan nilai Islami dan membangun sebuah sistem Islami di masyarakat kita. Dan semua itu hanya akan terwujud apabila sudah ada negara Islam atau khilafah Islam di muka bumi ini. Karena dengan cara seperti itulah kalian bisa melaksanakan ajaran Islam secara sempurna” (halaman 37)

 

Pada Pengantin Bom, doktrinasi dilakukan dengan diskusi yang lebih panjang dan mendalam. Pengarang menggambarkan seorang perekrut anggota kelompok Islam radikal sebagai seorang yang berwawasan luas dalam bidang politik dan ekonomi. Berikut penggalan diskusi antara Gesang dan Abu Arifin di dalam sel penjara:

 

Abu Arifin: “Mas Gesang, memang kapitalisme dengan segala kerakusannya itu adalah biang keladi kekacauan di dunia selama ini. Terutama kekacauan dan ketidakadilan sistem politik di arena politik lokal, nasional, internasional sehingga perlu gerakan sosial baru yang membawa misi suci untuk membebaskannya.”

Gesang: “Yang dimaksud misi suci itu apa?”

Abu Arifin: “Yaitu berupa persatuan kelompok-kelompok progresif anti kapitalisme dan neo-kolonialisme-imperialisme seluruh dunia.”

Gesang: “Seberapa parahkah situasinya?”

Abu Arifin: “Pasca berakhirnya Perang Dingin, situasinya kian parah. Kaum kapitalis kian angkuh karena berbagai kekuatan yang semasa Perang Dingin anti nekolim dari Eropa Timur, RRC, Vietnam, dan sebagainya sekarang melakukan perselingkuhan ataupun murtad dengan bergabung dengan kaum kapitalis itu.”

 

Obrolan-obrolan panjang antara mereka terus meluas ke berbagai wacana, terutama wacana terorisme, ketimpangan sosial, politik, dan ekonomi. Hinggga akhirnya, Gesang mendapatkan kenyamanan bersama Abu Arifin karena ia merasa memiliki teman yang baru yang senasib dan sepenanggungan dengannya sebagai makhluk yang terpinggirkan dan terkalahkan oleh sebuah sistem besar bernama rezim kapitalisme global yang begitu rakus dan tak berprikemanusiaan. (halaman 116).

 

Menjadi Seorang Teroris

Itulah proses doktrinasi yang dilakukan oleh para teroris kepada para korban untuk dijadikan pengikutnya. Dengan menyentuh sisi sensitif dari mereka, terutama korban yang mengalami himpitan ekonomi dan trauma di masa kecil, ia dapat dengan mudah menerima apa saja yang dikatakan oleh orang lain yang berideologi radikal, seperti apa yang terjadi pada tokoh Gesang dalam novel Pengantin Bom. Setelah ia mendapatkan informasi dari Abu Arifin tentang ketimpangan ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh kerakusan Kapitalisme, dengan mudah ia menyerahkan dirinya untuk dijadikan “pengantin bom” yang akan menghancurkan gedung simbol keangkuhan kaum kapitalis, Hotel JW Marriot. (halaman 144)

Berbeda halnya dengan tokoh Kemala dalam novel Demi Allah Aku Jadi Teroris, ia ditawari oleh Ustaz Amir jalan menuju surga yang penuh dengan kenyamanan dan keindahan. Kemala yang sejak kecil mengalami rasa sepi karena ditinggal mati oleh ibunya dan tidak pernah mendapatkan kehangatan kasih sayang sang ayah, mengalami tekanan psikologis yang terbawa hingga ia berusia dewasa. Keindahan surga begitu menggodanya sehingga ia ingin segera memasukinya (halaman 79). Ditambah lagi tayangan-tayangan yang sering ia saksikan yaitu film-film penganiayaan dan penindasan umat Islam di Irak, Palestina, dan Afganistan (halaman 148) semakin membuatnya begitu mudah menyerahkan dirinya sebagai “pengantin” yang akan menghancurkan tempat berkumpulnya orang kafir, salah satunya adalah Kafe Bistro Americana (halaman 151).

Begitu pula apa yang terjadi pada diri Sukree dalam novel Pengantin Teroris. Setelah ia mendengar penjelasan dari Ustaz Halim, dengan segera ia sambut seruan untuk berjihad. Kemudian ia terlibat dalam peperangan di Afganistan untuk misi jihadnya. Sepulangnya dari Afganistan, ia diperintahkan ketua Jamaah Islamiah untuk bertugas di Indonesia. Di sana ia mendengar fatwa Usamah bin Laden yang menyerukan umat Islam untuk membunuh umat Yahudi, Kristen, dan non muslim lainnya. Kemudian Sukree merekrut dua orang untuk dijadikan “pengantin” yang akan merobohkan gedung Hotel JW Marriot sebagai representasi Amerika. (halaman 146)

 

Kritik atas Sistem Demokrasi

Sebagaimana telah diketahui bersama, pemboman atas menara kembar World Trade Center di New York dan Pentagon pada tanggal 11 September 2001, dilakukan oleh sebuah jaringan terorisme transnasional Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. (Brigitte L. Nacos, 2003: 24). Secara eksplisit, penyerangan tersebut merupakan bentuk penolakan atas modernitas dan sekulerisasi. Di dalam tradisi filsafat, modernitas dan sekulerisasi adalah bentuk “Konsep Pencerahan”. Pencerahan tidak hanya berarti periode tertentu yang secara historis bertepatan dengan abad ke-18, melainkan juga afirmasi atas demokrasi dan pemisahan kekuasaan politik dari kepercayaan keagamaan yang dijadikan fokus oleh Revolusi Perancis dan juga Revolusi Amerika Serikat (Hendropriyono, 2009: 7)

Sejak pemboman tersebut, isu terorisme kembali mencuat ke permukaan.

Kesimpulan

Indonesia termasuk salah satu negara yang menjadi lahan subur untuk pertumbuhan bibit-bibit terorisme. Fenomena tersebut membangkitan semua pihak dari berbagai bidang untuk meredam dan mematikan pertumbuhan tersebut. Sastra adalah salah satu sarana untuk menanggulangi aksi-aksi terorisme tersebut sebagai soft power. Di Indonesia, tidak sedikit para sastrawan yang menuangkan isi pikirannya tentang terorisme ini di dalam karya-karya sastranya. Semangat tersebut muncul di Indonesia pasca terjadinya aksi-aksi bom bunuh diri, seperti Bom Bali I, Bali II, Hotel JW Marriot, dan lain-lain.

Dalam rentang waktu 5 tahun, sejak 2009 hingga 2014, penulis menemukan enam novel yang ditulis oleh enam orang, yaitu Damien Dematra, Ditta Arieska, Jusuf AN, Abu Ezza, abidah El Khaliqy, dan Sidik Jatmika. tiga novel yang penulis kaji mengandung banyak hal yang menjurus kepada pemberian informasi kepada masyarakat akan bahayanya aksi terorisme. Semuanya memiliki spirit yang sama, yaitu semangat ikut berpartisipasi dalam penanggulangan aksi terorisme.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

A.N, Jusuf. 2013. Pedang Rasul. Jogjakarta: Diva Press.

Ariesta, Ditta. 2009. Naksir Anak Teroris. Jogjakarta: Sheila.

Dematra, Damien. 2009. Demi Allah Aku Jadi Teroris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

El Khaliqy, Abidah. 2014. Jakarta: Solusi Publishing.

Ezza. Abu. Pengantin Teroris. Jawa Timur: Azhar Risalah.

Hendropriyono, A.M. 2009. Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, dan Islam. Jakarta: Kompas.

Jatmika, Sidik. 2009. Pengantin Bom. Jogjakarta: Liber Plus.

Brigitte L. Nacos. 2003. “Terrorism as Breaking News: Attack to America” Political Science Quarterly [online] Vol.118 No. 1 (Spring , 2003), 23-52. The Academy of Political Science.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Penerjemah: Melani Budianta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Salam, Aprinus dan Ramyda Akmal. T.t. Terorisme Negara, dan Novel Indonesia. Pdf diakses dari https://www.academia.edu/1483466/ terorisme_dan_sastra_indonesia.