PROBLEMATIKA ARABISASI DI ERA KONTEMPORER

947a7e5d-1299-43b8-9793-1a17356879f1

PROBLEMATIKA ARABISASI DI ERA KONTEMPORER

Oleh: Denden Taupik Hidayat, S.S.

Dipresentasikan pada Diskusi Dwimingguan IMASASI di UAI, Sabtu, 6 April 2013

  1. PENDAHULUAN

Bahasa arab merupakan salah satu bahasa anggota rumpun Semit yang paling mendekati bahasa Semit purba, baik dalam tataran fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik. Bahasa yang dimiliki bangsa Arab Utara (Hijaz dan Nejed) ini terus bertahan dan terpelihara dari keterputusan hubungan dengan induk Bahasa Semit. Selain karena watak mereka yang keras dan enggan tunduk terhadap bangsa apapun yang ingin menguasai mereka, kebanggaan atas kepemilikan bahasa Arab sebagai alat komunikasi dan media utama mengekspresikan dinamika kehidupan menjadi benteng paling kuat bagi bahasa Arab. Bahkan kesakralan bahasa Arab begitu kentara dengan diagungkannya syair-syair pemenang kontes tahunan di Pasar Ukkaz dengan cara ditulis memakai tinta emas dan digantungkan di dinding Ka’bah. Tidak ada satu pun bangsa di dunia ini yang menunjukkan apresiasi yang sedemikian besar terhadap ungkapan bernuansa puitis dan sangat tersentuh oleh kata-kata, baik lisan maupun tulisan, selain bangsa Arab. Sulit menemukan bahasa yang mampu memengaruhi pikiran para penggunanya sedemikian dalam selain bahasa Arab.[1]

Hijaz merupakan tempat penting bagi percaturan perdagangan internasional. Para kafilah dagang dari berbagai bangsa, seperti Abissinia, Saba-Himyar, Persia, dan lain-lain, singgah di Hijaz yang menawarkan sebuah kesempatan yang baik untuk aktivitas keagamaan dan perdagangan. Sehingga, Hijaz pada masa kelahiran Nabi Muhammad Saw dikelilingi oleh berbagai pengaruh, baik dari sisi intelektual, keagamaan, maupun material, baik yang datang dari Byzantium, Suriah (Aramaik), Persia, dan Abissinia, maupun yang datang melalui Kerajaan Gassan, Lakhmi, dan Yaman[2]. Kondisi seperti ini yang telah berjalan sangat lama memungkinkan terjadinya saling pengaruh mempengaruhi, khususnya bahasa Arab dengan bahasa-bahasa bangsa lainnya, seperti Aramaik, Ibrani, Persia, Yunani, Latin, dan India.[3]

 

  1. ARABISASI ERA KLASIK
    1. Definisi Al-Ta‘ri:b (Arabisasi) dan Al-Mu‘arrab (Kata Terarabkan)

Menurut etimologi, Al-ta‘rib dan al-mu‘arrab berturut-turut merupakan bentuk mashdar dan maf‘ul bih hasil derivasi kata dasar ‘arraba-yu‘arribu (عرّب-يعرّب) yang memiliki beberapa arti:

  1. Mengajarkan bahasa Arab:عرّبه أي علمه ,
  2. Mencela perbuatan dan perkataan seseorang, lalu menegurny عرّب عليه أي قبّح قوله وفعله وغيره عليه وردّه عليه أو منعه,
  3. Melukai binatang di salah satu bagian tubuhnya untuk diberi tand عرّب الدابة أي بزغها على أشاعرها ثم كواها,
  4. Menyerap bahasa asing ke dalam bahasa Arab:عرّبت العرب الاسم الأعجمي أي تفوّهت به العرب على مناهجها.[4]

Dengan demikian, secara etimologis, al-ta‘ri:b telah terdefinisikan sebagai proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Arab. Sedangkan, kata serapan hasil proses al-ta‘ri:b disebut al-mu‘arrab. Namun, dalam beberapa kasus, Al-Ta‘ri:b memiliki kesamaan makna dengan al-I‘ra:b berdasarkan beberapa bukti penggunaan keduanya oleh sebagian kecil linguis Arab klasik, seperti al-Jawhary saat menerangkan entri عرب dalam kamus al-Shihha:h (عرب: عرّبته العرب أو أعربته) dan Abu Hatim dalam kamus al-Tahdzi:b (إن جدة أصلها أعجمي…فأعرب). Bahkan, Sibawaih dalam hal ini hanya menggunakan istilah al-i‘ra:b berikut derivasinya.[5]

Adapun al-ta‘rib menurut terminologi, al-Jawa:liqy mendefiniskan al-Mu‘arrab sebagai kata serapan yang terdapat di dalam al-Qur’an, Hadis, Atsar, syair, dan natsr klasik.[6] Definisi ini memberikan pengertian bahwa al-mu‘arrab merupakan hasil proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Arab yang dilakukan penuturnya yang fasih pada masa sebelum atau saat keempat sumber tersebut mulai ada. Masa ini disebut juga masa ihtija:j atau istisyha:d yang rentang waktunya dibedakan sesuai domisili orang Arab, yaitu mereka yang tinggal di suku Badui dan perkotaan. Masyarakat Arab Badui dianggap sebagai penutur bahasa Arab yang fasih sampai abad ke-4 hijriah, sedangkan kefasihan masyarakat Arab yang tinggal di perkotaan hanya bertahan sampai akhir abad ke-2 hijriah. Adapun kata-kata serapan yang dihasilkan setelah masa tersebut dinamakan al-muwallad. Sedangkan kata-kata serapan secara keseluruhan tanpa memandang waktu disebut al-dakhi:l.[7]

  1. Faktor terjadinya Arabisasi

Ada beberapa faktor yang mendorong bangsa Arab menyerap bahasa lain, di antaranya sebagai berikut:

  1. Bangsa Arab secara terpaksa menggunakan kata dari bahasa asing bagi benda-benda yang hanya dimiliki oleh bangsa non-Arab. Misalnya beberapa nama perabotan rumah tangga القصعة/al-qash‘ah/[8], السكرجة /al-sukurrujah/[9], nama pakaian الديباج/al-di:ba:j/[10], dan nama perhiasan الياقوت /al-ya:qu:t/[11], yang semuanya diserap dari bahasa Persia.
  2. Ketertarikan bangsa Arab untuk lebih memilih menggunakan kata dari bahasa asing daripada bahasanya sendiri, baik karena lebih mudah diucapkan maupun sekedar menambah gengsi.
  3. Penjajahan yang dilakukan bangsa-bangsa adidaya non-Arab atas bangsa Arab. Kondisi ini memaksa bangsa Arab menggunakan bahasa penjajah untuk menarik simpati penguasa, baik karena kesadaran maupun paksaan dari penguasa .[12]
    1. Bahasa-bahasa yang diserap oleh Bangsa Arab

Selama berabad-abad, bangsa Arab telah berinteraksi dengan berbagai macam bangsa asing, terutama melalui jalur perdagangan internasional. Selain itu, migrasi nenek moyang bangsa Arab ke berbagai tempat yang telah ditempati bangsa asli yang berbeda bahasa turut mendorong terjadinya saling pinjam-meminjam kata. Di antara bahasa-bahasa asing yang diserap bahasa Arab masa klasik adalah sebagai berikut:

  1. Bahasa Persia

Bahasa Persia merupakan bahasa yang paling banyak diserap oleh bangsa Arab. Kondisi ini disebabkan bangsa Persia lebih intens dalam berinteraksi dengan bangsa Arab, baik melalui media perdagangan internasional maupun karena bangsa Persia merupakan penguasa sebagian besar jazirah Arab.

Bahasa Persia yang berlaku pada masa itu adalah bahasa Persia klasik yang sering disebut bahasa Pahlevi (الفهلوية). Terdapat 32 huruf konsonan dan 8 huruf vokal meskipun dalam tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis ada sedikit perbedaan di antara bahasa Persia klasik dan modern. Berikut ini huruf-huruf konsonan bahasa Persia modern:

(1) ا/alef/ ؛(2) ب/bé/ [b]؛(3) پ / pé/ [p]؛(4) ت/té/ [t]؛(5) ث/tsé/ [ts]؛(6) ج/jim/ [j]؛(7) چ /ché/ [ch]؛(8) ح/ hé / [h]؛(9) خ/ khé / [kh]؛(10) د/dâl/ [d]؛(11) ذ/dzâl/ [dz]؛(12) ر/ré/ [r]؛(13) ز/zé/ [z]؛(14) ژ /zhé/ [zh]؛(15) س/sin/ [s]؛(16) ش/syin/ [sy]؛(17) ص/sâd/ [s]؛(18) ض/zâd/ [z]؛(19) ط/tâ/ [t]؛(20) ظ/dza / [dz]؛(21) ع/ în / [a]؛(22) غ/ghîn/ [gh]؛(23) ف/fé/ [f]؛(24) ق/ghaf/ [gh]؛(25) ک /kâf/ [k]؛(26) گ /gâf/ [g]؛(27) ل/lâm/ [l]؛(28) م/mîm/ [m]؛ (29) ن/nûn/ [n]؛(30) و/vâv/ [v]؛(31) ه/hé/ [h]؛(32) ی /yé/ [y]؛[13]

Sedangkan huruf vokal berjumlah 8 huruf:

(1) آ،ا /alef/ [a]؛(2) اَ، -َ، /zabar/ [a]؛(3) اِ، -ِ، ـه، ه /zîr/ [e]؛(4) اُ، ـُو /zammah/ ؛(5) او، و /waw/ [u]؛(6) اُو، ـُو /waw/ [ow]؛(7) اي، يـى [i]؛(8) ايـ، -ِ، يـ، ـِى، [ey].[14]

  1. Bahasa Ibrani

Umat Yahudi sangat berperan dalam penyebaran dan pemeliharaan bahasa Ibrani yang merupakan bahasa kitab suci mereka, Taurat. Bangsa Yahudi dari sisi ras merupakan tetangga terdekat bangsa Arab.

Bahasa Ibrani terdiri dari 22 huruf konsonan dan 13 vokal:

  • konsonan

(1)א/Aleph/؛(2)ב/beth/&בּ/veth/؛(3)ג/ghimel/؛(4)ד/dhaleth/؛(5)ה/he/؛(6)ו/vau/؛(7)ז/zayin/؛(8)ח/cheth/؛(9)ט/teth(10)י/yod/؛(11)כ/chaf/؛(12)lamed/؛(13)מ/mem/؛(14)נ/nun/؛(15)ס/samech/؛(16)פ/phe/؛(17)ע/ngayin/؛(18צ/tzadi/؛19)ק/koph/؛(20)ר/resch/؛(21) שׂ/& /sin שׁ/syin/؛ (22) ת/thau/.[15]

  • Vokal

(1) אִ (short chirek) [i] ؛(2) אִי (long chírek) [í] ؛(3) אֵ (Ttzéri) [é] ؛(4) אֶ (ségol) [e] ؛(5) אַ (pathách) [ӕ] ؛ (6) אָ (kámetz) [á] ؛(7) אֹ (holam haser) [o]؛(8) אֻ (kibbutz) [u] في but /bʌt/؛(9) אְ (sheva) [e] أو السكوت عنها ؛(10) אֱ (chateph segol) [ə] ؛(11) אֲ (chateph patach) [a] ؛(12) אֳ (Chateph Kametz)[o] ؛(13) וֹ (chólem) [ó] ؛(14) וּ (shúrek) [ú][16]

  1. Bahasa Yunani

Yunani termasuk bangsa asing yang melakukan interaksi dengan bangsa Arab. Kebudayaan mereka masuk ke kerajaan-kerajaan Arab Selatan dan Utara, seperti Gassan dan Palymera. Bahkan dalam bidang kesenian, penguasa-penguasa padang padang pasir ini seringkali mendatangkan biduan dari negeri Yunani.[17]

Bahasa Yunani memiliki 24 huruf:

(1) Α α /alpha/؛(2) Β β / beta /؛(3) Γ γ /gamma/؛(4) Δ δ /delta/؛(5) Ε ε / epsilon /؛(6) Ζ ζ /zeta/؛(7) Η η /eta/؛(8) Θ θ /theta/؛(9) Ι Ι /iota/؛(10) Κ κ /kappa/؛(11) Λ λ / lambda/؛(12) Μ μ /mu/؛(13) Ν ν /nu/؛(14) Ξ ξ /xi/؛(15) Ο ο / omicron/؛(16) Π π /pi/؛(17) Ρ ρ /rho/؛(18) Σ σ /sigma/؛(19) Τ τ / tau /؛(20) Υ υ /upsilon/؛(21) Φ φ/chi/؛(22) Χ χ //؛(23) Ψ ψ /psi/؛(24) Ω ω /omega/؛[18]

  1. Bahasa Suryani

Bahasa suryani merupakan bahasa Semit terdekat dengan bahasa Arab. Bahasa Arab dan bahasa Suryani (Aramaic) sering digunakan dalam percakapan sehari-hari kerajaan-kerajaan Arab Utara klasik, seperti Nabasia, Palymera, Gassan, dan Lakhmi.[19]Bahkan, menurut Ignatius Yakub III, sintaksis bahasa Arab yang pertama kali disusun oleh Abu: al-Aswad al-du’ali: merupakan hasil adopsi sintaksis bahasa Suryani, terutama corak penulisannya yang menggunakan khat Ku:fi:.[20]

Bahasa suryani terdiri dari 22 huruf konsonan dan 5 huruf vokal:

  • Huruf konsonan

(1) ܐ /olaph/ [h] في hour /awr/؛(2) ܒ /béth/[b] ؛(3) ܓ /gomal/[g] ؛(4) ܕ /dolath/[d] ؛(5) ܗ / hé/ [h] ؛(6) ܘ /wau/[w]//؛(7) ܙ /zain/[z] ؛(8) ܚ /héth/ [ch] ؛(9) ܛ /téth/ [t] ؛(10) ܝ /yudh/ [y] في your/yur/؛(11) ܟ /koph/ [k] أو [kh] في workhouse/wәrkhaws/؛(12) ܠ /lomadh/ [l]//؛(13) ܡ / mîm/ [m]//؛(14) ܢ /nûn/ [n] ؛(15) ܣ /semkath/ [s] ؛(16) ܥ (‘ê)؛(17) ܦ /pê/ [p] أو [f] ؛(18) ܨ /sadhé/ [ss] في hiss/his/؛ (19) ܩ /qop/ [q]؛(20) ܪ /rísch/ [r]؛(21) ܫ /shîn/ [sh] في show/syow/؛(22) ܬ /tau/ [t]//.[21]

  • huruf vokal

(1) ܝܳ (ܙܩܦܐ)/ zqapha/[â]؛(2) ܝܺ (ܝܒܳܨܳܐ) / hbasa/ [i,î]؛ (3) ܝܽ(ܥܳܨܨܳܐ) esasa/ [u,û]؛(4) ܝܶ (ܪܒܳܨܳܐ)/ rbasa/ [e]؛(5)ܝܰ (ܦܬܳܚܳܐ)/ pthaha/ [a].[22]

  1. Indikator Karakteristik Al-Mu’arrab

Kata serapan dalam bahasa Arab dapat diketahui melalui beberapa alternatif berikut ini:

  1. Hasil analisis para pakar bahasa Arab

Kitab-kitab Mu’jam atau kamus monolingual bahasa Arab merupakan karya para pakar bahasa Arab bahkan diantara mereka sekaligus pakar bahasa-bahasa lainnya, misalnya al-Jawhary, pengarang kamus al-Shihha:h. Selain pakar bahasa Arab, ia juga pakar bahasa Persia.[23] Di dalam kamus al-shihha:h, al-Jawhary memberikan keterangan al-aba:ri:q (الأباريق) yang berarti kendi sebagai bentuk plural dari kata al-ibri:q yang merupakan kata serapan dari bahasa Persia.[24]

  1. Gabungan huruf yang tidak lazim (i’tila:f al-huru:f)

Kata-kata serapan dalam bahasa Arab dapat teridentifikasi melalui gabungan huruf yang tidak lazim dalam bahasa Arab. Kasus ini terbagi ke dalam dua pola, yaitu:

  • Gabungan huruf yang tidak mungkin terjadi dalam kata-kata Arab asli.
  1. Gabungan huruf /ba/ [ب], /sin/ [س], dan /ta/ [ت]. Al-Jawa:liqy menyatakan, “Tidak pernah ada kesaksian dari para pakar bahasa yang kredibel tentang kata yang tersusun dari ketiga huruf ini: /ba/ [ب], /sin/ [س], dan /ta/ [ت]. Oleh karena itu, jika ditemukan kata yang tersusun dari ketiga huruf tadi, kata tersebut merupakan kata serapan.”
  2. Gabungan huruf /ta/ [ت] dan /tha/ [ط]. Al-Azhary dalam komentarnya tentang kata al-thast (الطست)[25] menyatakan, “kata tersebut merupakan kata serapan karena terdapat gabungan huruf /ta/ [ت] dan /tha/ [ط] yang tidak akan pernah terjadi dalam bahasa Arab ”[26]
  3. Gabungan huruf /jim/ [ج] dan /ta/ [ت]. Al-Jawhary dalam komentarnya tentang kata al-jibt (الجبت) menyatakan, “kedua huruf ini tidak akan pernah bisa bergabung dalam sebuah kata Arab tanpa disertai huruf dzila:qy (ب,ر,ف,ل,م,ن).”[27]
  4. Gabungan huruf /jim/ dan /shad/. Misalnya, kata al-jishsh (الجص), al-shanjah (الصنجة)[28], dan al-shaulaja:n (الصولجان)
  5. Gabungan huruf /jim/[ج] dan /tha/[ط]. Misalnya, kata al-tha:jin (الطاجن).
  6. Gabungan huruf /jim/ [ج]dan /qaf/[ق]. Misalnya, kata al-jawq (الجوق).[29]
  7. Gabungan huruf /jim/ [ج] dan /kaf/ [ك]. Misalnya, kata al-kandu:j (الكندوج).
  8. Gabungan huruf /sin/ [س] dan /zay/ [ز]. Misalnya, kata al-sihri:z (السهريز).[30]
  9. Gabungan kata /shad/ [ص] dan /tha/[ط]. Misalnya, kata al-ishthafli:nah (الإصطفلينة).[31]
  10. Gabungan huruf /kaf/ [ك] dan /qaf/ [ق]. Abu Abd al-Rahma:n berkomentar, “gabungan huruf /kaf/ [ك] dan /qaf/ [ق] tidak pernah ada dalam kata Arab asli ”
  • Gabungan huruf yang lazim namun urutannya tidak sesuai dengan aturan bahasa Arab asli.
  1. Posisi huruf /nun/ [ن] sebelum huruf /ra/[ر]. Misalnya, kata al-narjis (النرجس)[32]
  2. Posisi huruf /za/ [ز] setelah huruf /dal/ [د]. Misalnya, kata al-hindaz (الهندز) [33]
  3. Posisi huruf /syin/ [ش] setelah huruf /lam/ [ل]. Misalnya, kata aqlasy (الأقلش)
  4. Posisi huruf /dza/ [ذ] setelah huruf /dal/ [د]. Misalnya, kata Baghda:dz (بغداذ)
  5. Huruf pada posisi fa:’ al-fi‘l sama dengan huruf pada posisi ‘ain al-fi‘l. Misalnya, kata al-qa:quzzah (القاقزة)[34]
  6. Menyimpang dari pola dasar pembentukan kata bahasa Arab (wazn).

Bangsa Arab berusaha mencocokkan setiap kata serapan dengan pola dasar pembentukan kata yang berlaku. Namun, tidak semuanya dapat dicocokkan sehingga sebagian kata serapan tetap seperti kondisi aslinya yang tidak sesuai dengan wazn yang berlaku dalam bahasa Arab. Misalny

  • Kata a:mi:n (آمين) berpola fa:‘i:l (فاعيل). Wazn فاعيل menurut al-Fayumy saat mengomentari kata al-fa:ni:dz (فانيذ), tidak terdapat di dalam pola bahasa Arab yang berlaku.
  • Kata a:nuk (آنك) berpola fa:‘ul (فاعُل). Pola seperti ini yang ‘ain al-fi‘l-nya berharakat dhammah tidak dikenal dalam wazn bahasa Arab.
  • Kata al-juwa:liq (الجوالق) berpola fu‘a:lil (فعالل) yang dianggap aneh oleh al-ra:ghib al-Ishfaha:ni: dalam pernyataannya, “Dalam bahasa Arab itu tidak akan pernah ditemukan kata singular yang huruf ketiganya berupa alif lalu setelahnya ada dua huruf lagi”
  • Kata al-narjis (النرجس) berpola fa‘lil (فعلل). Al-Jawa:liqy menegaskan wazn فعلل bukan bagian dari wazn bahasa Arab yang berlaku dalam pernyataannya,”Jika Anda menemukan satu kata saja yang berpola فعلل di dalam syair klasik, maka saya pastikan syair tersebut palsu.”
  1. Memiliki banyak variasi bacaan (katsrat al-lugha:t).

Di antara kata-kata serapan yang memiliki banyak versi adalah kata Isra:’i:l (إسرائيل) dan baghda:d (بغداد) yang sama-sama memiliki tiga versi bacaan, yaitu isra:l (إسرال), isra:’i:n (إسرائين), dan Isra:’i:l (إسرائيل); baghda:dz (بغداذ), baghda:n (بغدان), dan baghda:d (بغداد).[35]

  1. Tidak memiliki indikasi bagian dari derivasi kosa kata bahasa Arab.

Sebagian kata-kata serapan dalam bahasa Arab secara morfologis menunjukkan ketidakmungkinannya menjadi produk derivasi bahasa Arab. Misalnya, kata al-sura:diq (السرادق), al-ra:ghib al-isfaha:ny menilainya sebagai kata serapan berdasarkan kondisi morfologis kata tersebut. Ia menyatakan, “Dalam bahasa Arab itu tidak akan pernah ditemukan kata singular yang huruf ketiganya berupa alif lalu setelahnya ada dua huruf lagi.”[36]

  1. Berupa kata kuadrikonsontal (ruba:‘i:) atau kuintikonsonantal (khuma:si:) yang tidak terdapat huruf dzila:qi:. Contoh, kata جوسق
    1. Perubahan-Perubahan yang Terjadi Pada Kata-Kata Asing Saat Diarabisasikan
      1. Ibda:l
        • Ibda:l la:zim
          1. Mengganti huruf
        • Mengganti huruf [پ]/pe/ dalam bahasa Persia dan huruf [π]/phi/ dengan huruf [ب]/ba/ dan atau [ف]/fa/. Contoh, kata بِرِنْد dan فرند yang berasal dari bahasa Persia پرند dan kata فندق yang berasal dari bahasa Yunani, πανδοχεῖον /pandokhein/
        • Mengganti huruf [چ]/ce/ dalam bahasa Persia dengan huruf [ص]/shad/, seperti kata صنج yang berasal dari kata چنگ ;huruf [ش]/syin/, seperti kata شوذر yang berasal dari kata چادر.
        • Mengganti huruf [ژ] /za tebal/ dengan huruf [ز]/zai/. Contoh, زون yang berasal dari kata ژون.
        • Mengganti huruf [گ]/ge/ dengan huruf [ج]/jim/ dan atau huruf [ق]/qaf/. Contoh, kata قربز dan جربز yang berasal dari kata گربز.[37]
          1. Mengganti harakat
        • Mengganti vokal /e/ (al-harakat al-am:miyyah al-wusth) dengan harakat kasrah /i/, seperti kata ديماس yang berasal dari bahasa Yunani, δημόσιος /demosis/
        • Mengganti vokal /o/ (al-harakat al-khalfiyyah al-wusth) dengan harakat fathah /a/, seperti kataعربان yang berasal dari bahasa Yunani αρράβών /arrabon/
        • Mengganti harakat sukun di awal kata,baik dengan cara menambahkah huruf [أ]/hamzah/ di belakang huruf mati tersebut maupun memberinya harakat. Contoh,kata إقليم /iqli:m/ yang berasal dari bahasa Yunani, κλίμα /klima/.[38]
          • Ibda:l ghair la:zim
  1. Mengganti huruf /hamzah/ [أ] dengan huruf /‘ain/[ع]. Contoh, kata عربون /‘urbu:n/ yang berasal dari bahasa Yunani, ἀρραβών /arrabon/. Huruf [ἀ] /alpha/ diganti huruf [ع] /‘ain/ dan memberinya harakat dhammah, membuang salah satu huruf [ρ]/rho/ dan memberinya harakat sukun.
  2. Mengganti huruf [ت] /ta/ dengan huruf [ط]/tha/. Contoh, kata طاجن /tha:jin/ yang berasal dari bahasa Yunani, τάγηνον/taginon/. Huruf [τ]/tau/ diganti dengan huruf [ط]/tha/.
  3. Mengganti huruf [خ]/kha/ dengan huruf [ح]/ha/. Contoh, kata حب
  4. Mengganti huruf [س]/sin/ dengan huruf [ص]/shad/. Contoh, kata صابون
  5. Mengganti huruf [ش] /syin/dengan huruf [س]/sin/ . Contoh, kata إسماعيل[39]
  6. Mengganti huruf [ك] /kaf/ dengan huruf [ق]/qaf/. Contoh, قسطار.[40]
  7. Mengganti huruf illah : [و]/waw/, [ا]/alif/, dan [ي]/ya/dengan huruf [أ]/hamzah/. Contoh, نأرجيل [41], جؤذر [42], dan نئفق.[43]
    1. Menambahkan huruf (Ziya:dah)
  • Menambahkan huruf [ل]/lam/, seperti dalam kata صولجان /shaulaja:n/[44] yang berasal dari kata جوكان // dalam bahasa Persia.
  • Menambahkan huruf [و]/waw/, seperti dalam kata هاوون /ha:wu:n/[45] yang berasal dari kata هاوَن // dalam bahasa Persia.[46]
    1. Memindahkan posisi huruf (Al-Qalb al-makany).

Di antara contohnya adalah kata رطل /rithl/ yang berasal dari bahasa Yunani, λίτρα/litra/. Huruf [τ]/tau/diganti dengan huruf [ط] /tha/, lalu huruf [ρ] /rho/dan huruf [λ]/lambda/ saling berpindah posisi.[47]

  1. Mencocokkan dengan wazn (pola) bahasa Arab yang berlaku
  • Pola plural fu‘u:l (فُعُول), seperti kata tukhu:m (تخوم)[48] yang berasal dari bahasa Suryani takhu:ma: (ܬܚܽܘܡܳܐ). Bentuk singularnya takhm (تخم).
  • Pola plural uf‘ul (أفعل), seperti kata uflus (أفلس) yang berasal dari bahasa Yunani obolos (ὀβολός) . Bentuk singularnya fulus (فلوس).
  • Pola plural af‘a:l (أفعال), seperti kata anba:r (أنبار)[49] yang berasal dari bahasa Persia, anba:r (أنبار). Bentuk singularnya nabr (نبر).
  • Pola plural fa‘a:lil (فعالل), seperti kata baya:dziq (بياذق)[50] yang berasal dari bahasa Persia Kuno (Pahlevi), bayadak ( بيادك). Di-ta‘rib menjadi baya:dzaq (بياذق), lalu disesuaikan dengan pola fa‘a:lil (فعالل) sehingga menjadi baya:dziq (بياذق). Bentuk singularnya baydzaq (بيذق)
  • Pola plural fa‘a:li:l (فعاليل), seperti kata qara:mi:d (قراميد)[51] yang berasal dari bahasa Yunani, keramida (κεραμίδα). Bentuk singularnya qirmi:d (قرميد).[52]
  1. PROBLEMATIKA EKSISTENSI MU’ARRAB DI DALAM AL-QUR’AN

Kesesuaian kata-kata yang dianggap al-mu‘arrab di dalam al-Qur’an dengan linguistik bahasa Arab, baik dalam tataran fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik, memicu perdebatan panjang para pakar bahasa Arab, baik pada masa klasik maupun kontemporer.

  1. Argumentasi Ulama yang menolak eksistensi mu’arrab dalam al-Qur’an

Golongan pertama adalah para ilmuwan yang menolak eksistensi kata-kata serapan di dalam al-Qur’an. Mereka adalah Al-Sya:fi‘i, Ibn Jinny, al-Ra:zy, al-Zamakhsyari:, Ibn Fa:ris, dan Abu: ‘Ubaydah.[53] Menurut mereka, al-mu‘arrab bukan termasuk bahasa Arab sehingga seandainya terdapat di dalam al-Qur’an, akan berlawanan dengan beberapa ayat al-Qur’an yang menegaskan penggunaan bahasa Arab dalam seluruh ayat al-Qur’an, yaitu surat al-Zukhru:f [43:3](إنا جعلناه قرءانا عربيا ), al-Syuàra:’ [26:195] (بلسان عربي مبين), dan Fushshilat [41:44](ولو جعلناه قرءانا أعجميا لقالوا لو لا فصلت ءايته ءأعجمي وعربي).[54]

Abu ‘Ubaydah berkata, “al-Qur’an hanya menggunakan bahasa Arab, sama sekali tidak terdapat unsur bahasa asing. Terlalu berlebihan jika ada anggapan keberadaan kata-kata serapan di dalam al-Qur’an. Ucapan mereka yang mendeteksi keberadaan kata serapan di dalam al-Qur’an, diambil dari bahasa ini dan itu, sama sekali tidak dapat diterima.” Ibnu Faris kemudian memperkuat argumen ini dalam pernyataannya, “Seandainya di dalam al-Qur’an ditemukan kata-kata yang bukan bahasa Arab, maka akan ada anggapan ketidakmampuan bangsa Arab mencari padanan kata bagi kata-kata asing, dan ini mustahil”[55]

  1. Argumentasi Ulama yang menerima eksistensi mu’arrab dalam al-Qur’an

Golongan ke dua adalah para ilmuwan yang menyetujui adanya kata-kata serapan di dalam al-Qur’an. Abu ‘Ubayd al-Qa:sim bin Sala:m mendasarkan anggapannya atas keberadaan al-mu‘arrab di dalam al-Qur’an pada beberapa riwayat dari Ibn ‘Abbas, Muja:hid, Ibn Jabi:r, ‘Ikrimah, dan ‘Atha’. Mereka menyatakan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat kata-kata serapan dari bahasa asing, seperti kata طه /tha:ha:/, الطور /al-thu:r/, اليم /al-yamm/[56], dan الربانيون /al-rabba:niyyu:n/[57] yang berasal dari bahasa Suryani.[58] Ibn Jari:r bahkan menyatakan bahwa kata-kata yang terdapat di dalam al-Qur’an berasal dari berbagai macam bahasa. Demikian juga al-Suyu:thi, ia membahas secara khusus al-mu‘arrab yang terdapat di dalam al-Qur’an dan memberinya judul al-muhadzdzab fi: ma: waqa‘a fi: al-Qura:n min al-mu‘arrab.[59]

Abu: ‘Ubaydah, al-Jawa:liqy, dan Ibn al-Jawzy mencoba mengkompromikan pendapat ulama yang menyetujui dan mengingkari eksistensi al-mu‘arrab di dalam al-Qur’an.[60] Berikut pernyataan Abu: ‘Ubaydah:

“Menurut saya, kedua pendapat ini, baik yang mengingkari maupun menyetujui eksistensi al-mu‘arrab di dalam al-Qur’an, adalah benar. Kata-kata serapan di dalam al-Qur’an pada awalnya memang merupakan kata-kata bahasa asing di luar bahasa Arab, namun kemudian digunakan oleh bangsa Arab dan mengadopsinya sesuai aturan tata bahasa Arab yang berlaku sehingga menjadi bahasa Arab dan dipakai secara konvensional, lalu turunlah al-Qur’an.”[61]

 

Pendapat ke dua ini merupakan pendapat yang paling dapat diterima, baik di lihat dari sudut pandang ilmu sosiologi maupun linguistik. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab kepada penutur asli bahasa Arab yang telah lama hidup sebelum al-Qur’an turun. Mereka telah lam berinteraksi dengan bangsa-bangsa non-Arab seperti bangsa Persia, Romawi, Yunani, India, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya[62] baik melalui proses perdagangan, pertemuan para duta, dan penjajahan oleh bangsa lain. Bahasa Arab bukan bahasa yang baru lahir, tapi telah mengalami interaksi dengan bahasa-bahasa bangsa lain melalui berbagai cara.[63]

  1. URGENSI DAN PROBLEMATIKA ARABISASI ERA KONTEMPORER

Seiring berjalannya waktu, kemajuan di segala bidang semakin pesat. Setiap harinya, istilah-istilah baru bermunculan. Bangsa Arab merasa perlu mencari padanan kata bagi istilah-istilah baru tersebut agar tidak ketinggalan zaman. Usaha-usaha untuk mewujudkan hal tersebut gencar dilakukan meskipun masih banyak kekurangan. Masing-masing memiliki standar tersendiri sehingga hasil yang didapatkan berbeda-beda bahkan mengalami degradasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalah ini, pusat-pusat bahasa di negara-negara Arab gencar mengadakan seminar dan penelitian. Pusat bahasa Arab di Kairo merupakan lembaga bahasa paling produktif melakukan usaha-usaha progressif menemukan padanan kata bagi istilah-istilah baru dan berhasil menghimpun 70% istilah-istilah kontemporer dalam berbagai bidang.[64]

  1. Urgensi arabisasi pada masa kontemporer

Proses penyerapan bahasa asing sudah menjadi tabiat semua bahasa. Di dunia ini, tidak ada satu pun bahasa yang terlepas dari proses saling pengaruh mempengaruhi dengan bahasa bangsa lain.[65] Salah satunya bahasa Arab yang telah berumur ribuan tahun namun masih bertahan di tengah kancah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, para ahli bahasa, baik dari barat maupun timur tengah, menyatakan keunggulan bahasa Arab atas bahasa-bahasa Semit lainnya. Bahasa Arab terbukti sebagai satu-satunya bahasa Semit yang paling mendekati induk bahasa Semit dan masih tetap bertahan hingga sekarang.[66] Kemampuan beradaptasi dengan berbagai macam kemajuan dinamika kehidupan manusia adalah ciri utama bahasa Arab sehingga akan terus bertahan sampai kiamat menjelang.[67]

Salah satu bentuk adaptasi bahasa Arab dengan kemajuan zaman adalah penyerapan bahasa asing yang dilakukan sesuai kaidah bahasa Arab yang baik dan benar. Proses arabisasi ini sangat penting dilakukan mengingat beberapa alasan berikut ini:

  1. Proses penyerapan bahasa asing merupakan tabiat semua bahasa di dunia.
  2. Memaksakan diri menggunakan kata-kata bahasa Arab klasik dalam proses arabisasi tidak akan mendatangkan solusi yang tepat. Mengingat banyak sekali istilah-istilah asing yang dihasilkan melalui proses arabisasi seperti ini tidak mencapai esensi yang dimaksud terutama istilah-istilah ilmu sains, seperti kimia, biologi, dan lain-lain. Saat ini, jumlah istilah-istilah khusus mencapai 1,5 juta kata dengan rata-rata 150 istilah baru per harinya. Di antaranya, 50 ribu istilah ilmu kedokteran.
  3. Bahasa-bahasa Eropa memiliki kemampuan membuat istilah-istilah baru dalam setiap penemuan-penemuan penting ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetensi ini tidak dimiliki bahasa Arab mengingat sukarnya mencari kata-kata yang saling memiliki korelasi satu sama lain. Di antara langkah bahasa Arab dalam membentuk istilah-istilah baru adalah tarki:b majzy dan naht (susut). Untuk mencari padanan kata amfibi contohnya, gabungan kata بر /barr/ dan ماء /m’/ menjadi برمائي//barm’i:/. Selain, metode pembentukan kata seperti ini yang tidak ilmiah, makna yang dihasilkannya pun tidak secara jelas menunjukkan arti yang dimaksud, bahkan cenderung memancing kesalahfahaman. Oleh karena itu, ta‘ri:b dalam hal ini sangat diutamakan agar dapat lebih jelas dan tepat sasaran.[68]
    1. Perbedaan Pendapat Linguis Bahasa Arab kontemporer tentang Arabisasi

Sebagaimana telah disinggung pada pembahasan di atas, masing-masing pakar bahasa Arab memiliki standar tersendiri dalam melakukan proses arabisasi kata-kata asing kontemporer. Secara garis besar, sikap mereka terbagi ke dalam tiga kelompok:

  1. Kelompok konservatif.

Mereka yang termasuk kelompok ini memandang bahasa Arab secara mutlak mampu mengatasi problematika arabisasi istilah-istilah baru. Tidak perlu meminjam kata-kata asing seutuhnya. Solusi yang ditawarkan adalah derivasi kata bahasa Arab yang memiliki kesamaan ciri dan arti dengan istilah baru atau menerjemahkannya. Misalnya, kata السيارة untuk menunjukkan makna mobil dan frase الصور المتحركة sebagai padanan kata sinematografi.

  1. Kelompok pragmatis.

Kelompok ini memberikan kelonggaran seluas-luasnya untuk meminjam istilah-istilah asing seutuhnya dan menyesuaikannya dengan pola-pola bahasa Arab sehingga bisa dilakukan proses derivasi kata. Argumen ini didasarkan pada beberapa fakta peristiwa di masa lalu, bangsa Arab menyerap kata درهم yang mirip dengan aslinya dan membentuknya menjadi kata baru yang derivatif. Tidak ada halangan untuk melakukan cara seperti ini selama istilah asing tersebut masih bisa disesuaikan dengan huruf dan pola bahasa Arab. Kata تلفون /tilfu:n/ terdiri atas huruf-huruf Arab dan sesuai dengan pola فعلون/fi‘lu:n/ sehingga dapat dibentuk menjadi akar kata, yaitu تلفن /talfana/ yang inflektif dan derivatif.

  1. Kelompok moderat.

Pandangan kelompok ini menengahi kedua kelompok di atas yang kontradiktif. Langkah pertama yang dilakukan dalam proses pencarian padanan kata bagi istilah-istilah baru adalah berusaha menelusuri kata-kata bahasa Arab asli yang pantas. Namun jika tidak ditemukan padanan kata yang layak, langkah ke dua adalah meminjam istilah asing tersebut melalui proses penyesuaian dengan kaidah-kaidah fonologis dan morfologis bahasa Arab.

Metode yang dilakukan kelompok moderat lebih dapat diterima karena bersifat objektif dan kondisional. Karena, seandainya kata مذياع /midzya:‘/, هاتف /ha:tif/, dan سيارة /sayya:rah/ dikatakan kepada orang Arab Badui, ia dapat mengenalnya dengan melihat pola kata-kata tersebut yang menunjukkan alat. Meskipun ia tidak mengetahui maksud sebenarnya dari ketiga kata tersebut, ia dapat mengetahui مذياع sebagai alat penyampai informasi(dzuyu‘:),هاتف sebagai alat komunikasi (hita:f), dan سيارة sebagai alat berjalan (sair). Berbeda halnya jika ketiga kata tersebut disampaikan berupa hasil arabisasi versi kelompok pertama, yaitu راديوا, تلفون, dan أوتومبيل. Orang Arab Badui tersebut tidak akan bisa memahaminya sedikitpun. [69]

Langkah yang diambil kelompok moderat lebih baik daripada kelompok pertama yang fanatik buta terhadap bahasa Arab. Karena kecintaannya yang berlebihan terhadap bahasa Arab, kelompok pertama telah terbelenggu dari penyesuaian diri dengan kemajuan zaman. Padahal, bahasa Arab sedang hidup di masa yang serba baru. Banyak istilah asing yang belum pernah ditemukan pada masa lalu sehingga mengharuskan adanya usaha arabisasi. Proses Arabisasi bukanlah sebuah aib bagi sebuah bahasa. Berdasarkan teori sosial, penyerapan bahasa asing merupakan fenomena yang lazim terjadi pada semua bangsa yang saling berinteraksi satu sama lain. Sebuah bahasa tidak akan pernah mampu berdiri sendiri tanpa berkembang maju bersama bahasa-bahasa lainnya.

Begitu juga pandangan kelompok ke dua yang terlalu longgar dalam proses arabisasi. Pengaruh negatif akan timbul dan menyebabkan eksistensi sejati bahasa Arab terancam. Jika semua istilah asing dapat begitu saja diarabisasikan secara utuh, lalu bagaimana nasib bahasa Arab yang sudah kehilangan jati dirinya ini?. Jika langkah ini dibiarkan, bisa jadi suatu saat akan muncul sebuah kalimat,”أترمت إلى أوتيل الكوان كالم ورجعت متنبلا ”/atramtu ila: u:ti:l al-kuwa:n kalm waraja‘tu mutanabbilan/ yang semestinya, “رکبت القطار إلى منامة الزاوية الهادئة ورجعت بالسيارة.”[70]

  1. Standardisasi Arabisasi Era Kontemporer

Untuk menertibkan proses arabisasi di era kontemporer, pusat bahasa Arab di Kairo menetapkan beberapa aturan berikut ini:

  1. Pada prinsipnya, arabisasi dibolehkan dalam keadaan darurat dan mesti disesuaikan dengan kaidah bahasa Arab.
  2. Proses derivasi kata-kata nominal hasil arabisasi diperbolehkan, baik disesuaikan dengan pola verba trikonsonantal takberimbuhan (tsultsy mujarrad), verba trikonsonantal derivatif (tsultsy mazi:d), verba kuadrikonsonantal takberimbuhan (ruba:‘i: mujarrad), maupun pola verba kuadrikonsonantal derivatif (ruba:‘i: mazi:d).
  3. Dalam prakteknya, hasil proses arabisasi berikut derivasinya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah dan mesti di bawah persetujuan lembaga bahasa Arab. [71]

Emil Badi‘ Ya‘qub menambahkan, langkah-langkah yang mesti diambil dalam proses Arabisasi harus tertib. Langkah pertama, berusaha menyesuaikan istilah asing dengan lidah orang Arab sehingga mudah diucapkan tanpa terpaku oleh bahasa asal istilah asing tersebut. Langkah ke dua, menyesuaikannya dengan pola dalam bahasa Arab yang berlaku. Langkah ke tiga, menyertakan istilah asing dengan tulisan latin dalam penulisan hasil Arabisasi.[72]

  1. Usaha-usaha peningkatan kualitas bahasa Arab di era globalisasi

Bahasa Arab tidak mungkin terhindar dari proses Arabisasi mengingat besarnya jumlah peningkatan kuantitas istilah-istilah ilmiah setiap harinya. Lembaga-lembaga bahasa Arab telah berupaya mencari padanan kata bagi istilah-istilah baru tersebut dan membukukannya dalam kamus-kamus istilah. Namun, langkah besar ini tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh mengingat istilah-istilah asing telah lebih dahulu menyebar di tengah-tengah masyarakat Arab sebelum diproses secara profesional oleh lembaga-lembaga bahasa Arab. Sehingga akhirnya berimplikasi pada dua kemungkinan: kemungkinan pertama, penggunaan dua macam hasil proses arabisasi, seperti kata مذياع dan راديوا, سيارة dan آوتومبیل, هاتف dan تلفون; kemungkinan ke dua, penggunaan salah satu hasil proses arabisasi secara massif sehingga memarginalkan kata lainnya, terutama dalam kasus ini, tergerusnya penggunaan padanan kata dari bahasa Arab asli. Tidak mustahil, penggunaan kata مذياع, سيارة, dan هاتف akan hilang ditelan masa. Kedua kemungkinan ini menumbuhkan dan memperkuat dugaan atas kelemahan bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi yang selalu digembar-gemborkan oleh para penjajah bangsa Arab.

Untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan di atas, diperlukan langkah-langkah terorganisir hasil kerja sama semua pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga bahasa, media massa, dan rakyat. Berikut ini beberapa solusi yang ditawarkan:

  1. Lembaga-lembaga bahasa Arab harus lebih cepat mengkaji istilah-istilah ilmiah dan berlomba dengan percepatan penyebarannya di tengah-tengah masyarakat Arab. Kemudian sesegera mungkin mempublikasikan hasilnya melalui media massa.[73]
  2. Menggencarkan penggunaan bahasa Arab dalam berbagai bidang, terutama bidang pendidikan. Saat ini, ada beberapa seruan negatif yang mengancam eksistensi bahasa Arab: seruan penggunaan bahasa Arab slang secara resmi dan penggunaan bahasa asing dalam sektor pendidikan secara total, terutama perguruan tinggi agar tidak tertinggal dari percaturan pemikiran global. Seruan-seruan ini merupakan salah satu bentuk penjajahan kebudayaan bangsa asing terhadap bangsa Arab.

Setidaknya, ada tiga dampak positif yang didapatkan saat menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam sektor pendidikan: pertama, memecahkan problematika arabisasi istilah-istilah asing;Kedua, meminimalisir jurang pemisah antara bahasa Arab fush dan ‘à:miah; dan Ketiga, memudahkan penyampaian materi-materi ilmiah.[74]

  1. KESIMPULAN

Penyerapan bahasa asing merupakan hal yang lumrah terjadi pada semua bahasa di dunia. Hubungan antar bangsa berbeda bahasa dalam kurun waktu yang cukup lama sangat memungkinkan terjadinya peristiwa pinjam-meminjam kata, baik karena kebutuhan mendesak dalam memberi nama benda yang baru pertama kali dikenal maupun atas dasar ketertarikan semata saat menggunakan kata lain dari bahasa asing.

Proses Arabisasi telah terjadi sejak bangsa Arab bermigrasi ke berbagai belahan dunia dan bercampur dengan bangsa-bangsa asing. Selain itu, perdagangan internasional dan invasi bangsa-bangsa ajam terhadap bangsa Arab menjadi mendorong terjadinya penyerapan bahasa satu sama lain. Salah satu keunggulan bahasa Arab adalah kemampuannya menggunakan bahasa asing tanpa kehilangan jati dirinya sehingga hampir sebagian besar mu‘arrab sesuai dengan pola dan kaidah bahasa Arab.

Bagaimanapun, bahasa merupakan produk kebudayaan manusia yang sering berubah seiring kemajuan peradaban. Bahasa yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman akan semakin tergerus dan terancam mati seperti nasib beberapa bahasa di beberapa belahan dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jauhari. al-Shihha:h. Beirut: Da:r al-‘Ilm li: al-Mala:yi:n, 1984.

Al-Jawaliqi. al-Mu‘arrab min al-Kala:m al-A‘jami: ‘ala: Huru:f al-Mu‘jam. Damaskus: Dar al-Qalam, 1990.

Al-Jawaliqi. al-Mu‘arrab min al-Kala:m al-A‘jami: ‘ala: Huru:f al-Mu‘jam. Beirut: Dar al-kutub, 1969.

Al-Nadiry, Muhammad As‘ad. Fiqh al-lughah: Mana:hiluh wa Masa:’iluh. Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 2009.

Al-Shalih, Subhi. Dira:sa:t fi: Fiqh al-Lugha. Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 2004.

Al-Siba‘i Muhammad al-Siba‘i. al-Lughah al-Fa:risiyyah: Nahw wa Sharf wa Ta‘bi:r. Kairo: Da:r al-Tsaqa:fah, 1990.

Groves, John. A Greek and Englsih Dictionary. Boston: Hilliard, Gray, and Company, 1834.

Hitti, Philip K. History of The Arabs. Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin,dkk. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008.

Ibrahim, Muhammad bin. Fiqh al-Lughah: Mafhu:muh wa Maudhu:‘a:tuh wa Qadha:ya:h. Riyadh: Da:r Ibn Khuzaymah, 2005.

Ibn al-Manzhur. Lisa:n al-‘Arab. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi wa Mu’assasat al-Tarikh al-‘Arabi, 1999.

Khalaf, Ghassan. al-Fihris al-‘Arabi: li Kalima:t al-‘Ahd al-Jadi:d al-Yuna:niyyah. Beirut: Dar al-Nasyr al-Ma‘madaniyyah, 1979.

Yakub III, Ignatius. al-Bara:hi:n al-Hissiyyah ‘ala: Taqa:rudh al-Surya:niyyah wa al-‘Arabiyyah. Damaskus: Majma‘ al-Lughah bi Dimasyq, 1969.

Ya‘qub, Emil Badi‘. Mawsu:‘ah ‘Ulu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971.

Willis, Arthur. An Elementary Hebrew Grammar. London: Cambridge of Trinity College, 1834.

Wilson. Element of Syriac Grammar. New York: Charles Scribners’s Sons, 1891.

 

[1] Philip K. Hitti, History of The Arabs. Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin,dkk (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008), h. 112

[2] Philip K. Hitti, History of The Arabs, h. 128-136

[3] Subhi al-Shalih, Dira:sa:t fi: Fiqh al-Lughah(Beirut: Dar al-‘Ilm li al-malayin, 2004), h. 314-315

[4] Ibn al-Manzhur, Lisa:n al-‘Arab (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi wa Mu’assasat al-Tarikh al-‘Arabi, 1999), vol. 9, h. 113-118

[5] Pengantar Muhaqqiq, Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab min al-Kala:m al-A‘jami: ‘ala: Huru:f al-Mu‘jam (Damaskus: Dar al-Qalam, 1990), h. 13

[6] Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab min al-Kala:m al-A‘jami: ‘ala: Huru:f al-Mu‘jam (Beirut: Dar al-kutub, 1969), h. 52.

[7] Muhammad As‘ad al-Nadiry, Fiqh al-lughah: Mana:hiluh wa Masa:’iluh (Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 2009), h. 320

[8] Mangkuk ceper

[9] piring

[10] Sutera tebal

[11] Batu mulia

[12] Muhammad bin Ibrahim, Fiqh al-Lughah, h. 165

[13] Al-Siba‘i Muhammad al-Siba‘i, al-Lughah al-Fa:risiyyah: Nahw wa Sharf wa Ta‘bi:r (Kairo: Dar al-Tsaqafah, 1990), h. 6-8

[14] Al-Siba‘i Muhammad al-Siba‘i, al-Lughah al-Fa:risiyyah, h. 6

[15] Arthur Willis, An Elementary Hebrew Grammar (London: Cambridge of Trinity College, 1834), h. B

[16] Arthur Willis, An Elementary Hebrew, h. 3

[17] Philip K. Hitti, History of Arabs, h. 94-99

[18] Ghassan Khalaf, al-Fihris al-‘Arabi: li Kalima:t al-‘Ahd al-Jadi:d al-Yuna:niyyah (Beirut: Dar al-Nasyr al-Ma‘madaniyyah, 1979), h. dan John Groves, A Greek and Englsih Dictionary (Boston: Hilliard, Gray, and Company, 1834), h. 1-611

[19] Philip K. Hitti, History of Arabs H. 87-104

[20] Ignatius Yakub III, al-Bara:hi:n al-Hissiyyah ‘ala: Taqa:rudh al-Surya:niyyah wa al-‘Arabiyyah (Damaskus: Majma‘ al-Lughah bi Dimasyq, 1969), h. 11

[21] Al-Maruni, Ghara:mati:q al-Lughah al-A:ra:miyyah al-Surya:niyyah (Beirut: Mathba‘ah al-Ijtihad, 1929), h. 3-5 dan Wilson, Element of Syriac Grammar (New York: Charles Scribners’s Sons, 1891), h. 1

[22] Al-Maruni, Ghara:mati:q al-Lughah al-A:ra:miyyah al-Surya: h. 5 dan Wilson, Element of Syriac Grammar, h. 4

[23] Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab,H. 21

[24] Al-Jauhari, al-Shihha:h (Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1984), vol. 4, h.1449.

[25] Berasal dari bahasa Persia, تَشْت

[26] Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab,H. 60

[27] Al-Jauhary, al-Shihha:h,vol. 1, h.245

[28] Timbangan.

[29] Sekumpulan orang.

[30] Sejenis kurma merah. Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h.397

[31] Wortel. Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 155

[32] Pohon bunga narsis. Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h.606

[33] Analogi. Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h.640

[34] Sejenis gelas. Al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 523

[35] Abd al-rahim dalam al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 26

[36] Subhi al-Shalih, Dira:sa:t fi: Fiqh al-Lughah, h. 178

[37]Abd al-Rahim dalam al-Jawaliq, al-Mu‘arrab, h. 68-69

[38] Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 70-71

[39]

[40] Timbangan, penjaga, proses tukar menukar uang, penanggung jawab urusan rakyat. Menurut Abd Rahim, arti القسطار lebih tepatnya penanggung jawab urusan rakyat yang diserap dari bahasa Latin, quaestor (pegawai kerajaan Romawi yang bertugas sebagai pembantu umum, hakim dalam kasus pembunuhan, dan penanggung jawab harta negara). Sedangkan makna penjaga dan proses tukar menukar uang berasal dari bahasa Suryani, ܩܰܣܛܳܘܪ/qastha:ur/ dan ܩܳܣܛܳܪ/qastha:r/

[41] Kelapa nyiur.

[42]Bentuk plural, الجآذر/al-ja’a:dzir/ yang berarti anak sapi. Terdapat 7 variasi bacaan: الجوذَر/al-jaudzar/, الجوذِر/al-jaudzir/, الجُوذُر/al-ju:dzur/, الجُوذَر/al-ju:dzar/,الجُؤْذُر/al-ju’dzur/, الجُؤْذَر/al-ju’dzar/,dan الجَوْذِر/al-jaudzir/. Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 246

[43]Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 66-67

[44] Plural:الصوالجة/al-shawa:lijah/ yang berarti tongkat yang ujung atasnya bengkok. Terdapat 4 variasi bacaan: الصولجان/al-shaulaja:n/, الصولجانة/al-shaulaja:nah/, الصولجة/al-shaulaj/, الصولجة/al-shaulajah/. Tetapi, dalam versi lain, Abd Rahim menganggap الصولجان tidak tepat jika dikatakan hasil penyerapan dari bahasa Persia, tapi diserap dari bahasa Suryani, ܨܘܠܟܢܬ//, yang mengandung huruf [ل]. Kata الصوجان/al-shauja:n/ adalah mu‘arrab yang tepat bagi جوكان dalam bahasa Persia. Al-jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 422-423

[45] Plural: هواوين/hawa:wi:n/ yang berarti lumpang. Terdapat 3 variasi bacaan: الهاوون/al-ha:wu:n/, الهاون/al-ha:wan/,dan الهاون/al-ha:wun/.

[46] Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 72

[47] Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 82-83

[48] Batas tanah. Al-jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 217

[49] Piramida makanan, tumpukan sampah, gudang penyimpanan komoditas. Al-jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 114

[50] Pejalan kaki. Al-jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 210

[51] Batu bata merah, material penghias bangunan seperti kapur. Terdapat 2 variasi bacaan: القرميد/al-qirmi:d/ dan القرمود/al-qurmu:d/. Al-jawaliqi, al-mu‘arrab, h. 493.

[52] al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 73-75

[53] Muhammad bin Ibrahim, Fiqh al-Lughah: Mafhu:muh wa Maudhu:‘a:tuh wa Qadha:ya:h (Riyadh: Dar Ibn Khuzaymah, 2005), h.

[54] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah ‘Ulu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971), vol. 4, h. 559

[55] Muhammad bin Ibrahim, Fiqh al-Lughah,h. 159

[56] Laut. Berasal dari bahasa Suryani, ܝܰܡܳܐ /yama:/. Dalam bahasa Ibrani יָמ /yam/. Lihat Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 645

[57] Singular: ربّاني yang berarti ulama. Berasal dari bahasa Ibrani, רַבָּן /rabba:n/ atau bahasa Suryani ܪܰܒܽܘܢܝܺ  /rabbauni:/. Lihat Abd al-Rahim dalam al-Jawaliqi, al-Mu‘arrab, h. 332

[58] Muhammad bin Ibrahim, Fiqh al-Lughah, h. 160

[59] Muhammad As‘ad al-Nadiri, Fiqh al-lughah: Mana:hiluh wa Masa:’iluh (Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 2009), h.323

[60] Muhammad bin Ibrahim, Fiqh al-Lughah, h. 161

[61] Shubhi al-Shalih, Dira:sat fi: Fiqh al-Lughah, h. 317

[62] Philip K. Hitti, History of The Arabs, h. 56

[63] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 561

[64] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 562

[65] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 561

[66] Philip K. Hitti, History of The Arabs, h. 112

[67]Video wawancara bersama Dr. Sa‘id al-Syarbini, Dosen Bahasa Arab di Universitas London di stasiun televisi al-Rahmah berdurasi 1 jam 11 menit 35 detik. Diunduh dari http://www.youtube.com/watch?v=400-8Oz4a6A, tanggal 4 April 2013, pukul 11.11 WIB

[68] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 564

[69] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 562-563

[70] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 563

[71] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 568-569

[72] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 564

[73] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 565

[74] Emil Badi‘ Ya‘qub, Mawsu:‘ah Ùlu:m al-Lughah al-‘Arabiyyah, h. 567